BATIC 2026 Satukan Pemimpin Digital Dunia di Bali

ED
PN
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:41 WIB
Bagikan
BATIC 2026 Satukan Pemimpin Digital Dunia di Bali

Delegasi BATIC 2026 berkumpul di Bali, Indonesia, dalam forum yang membahas masa depan konektivitas, cloud, dan kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Pasifik. /visi.news/ist

VISI.NEWSBali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu titik penting dalam pembentukan masa depan ekonomi digital Asia Pasifik. Digelar pada 25–28 Agustus 2026 di Bali, konferensi internasional ini mempertemukan lebih dari 2.700 delegasi dari 760 perusahaan yang berasal dari 67 negara.

Mengusung tema “Uniting Ecosystem to Drive Connected Progress”, BATIC 2026 tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan mengenai teknologi, tetapi juga ruang untuk mempertemukan berbagai pelaku ekosistem digital, mulai dari perusahaan telekomunikasi, penyedia infrastruktur, cloud, pusat data, kecerdasan buatan (AI), investor, regulator hingga pemimpin industri global.

Skala pertemuan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan kolaborasi untuk membangun infrastruktur digital yang tangguh, aman, inklusif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi AI yang berlangsung sangat cepat. Dalam penyelenggaraannya, BATIC 2026 juga mencatat lebih dari 4.500 pertemuan terjadwal melalui aplikasi BATIC, serta melibatkan 72 sponsor dan exhibitor.

Pesan utama yang mengemuka sepanjang konferensi adalah bahwa perkembangan konektivitas, cloud, dan AI tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya membutuhkan ekosistem yang saling terhubung agar mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.

Pada hari pertama konferensi, pembahasan diarahkan pada penguatan fondasi konektivitas global. Sam Evans dari Teneo membuka rangkaian diskusi dengan menggarisbawahi pentingnya jaringan generasi berikutnya sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat pada masa depan.

President Director Telkom Indonesia Dian Siswarini kemudian menyampaikan keynote bertajuk “Empowering the Digital Future: Connectivity, Innovation, and Growth”. Ia menekankan bahwa masa depan digital membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat, pemanfaatan kecerdasan melalui AI, serta kolaborasi antarpelaku ekosistem.

“Building the digital future requires us to strengthen our foundations, embrace intelligence, and collaborate across the ecosystem. Through these efforts, we can transform connectivity into greater innovation, economic opportunity, and sustainable digital growth,” ujar Dian.

Pembahasan kemudian berlanjut pada kebutuhan investasi untuk membangun infrastruktur serat optik dan kabel bawah laut yang tangguh. Executive Panel bertajuk “Investment Horizons: Building Resilient Subsea and Fiber Infrastructure” mempertemukan para pemimpin dari Telkom Indonesia, Airtel, BW Digital, HSBC, Alcatel Submarine Networks, Digital Realty, dan PCCW Global.

Diskusi tersebut menyoroti kebutuhan modal, model pembiayaan, mitigasi risiko, serta pentingnya kerja sama lintas ekosistem untuk memperkuat konektivitas internasional.

Kabel bawah laut dan jaringan serat optik menjadi semakin strategis karena lonjakan kebutuhan data yang dipicu oleh pertumbuhan layanan cloud dan AI. Infrastruktur tersebut bukan lagi sekadar fasilitas pendukung telekomunikasi, tetapi telah menjadi bagian penting dari daya saing ekonomi digital suatu negara.

BATIC 2026 kemudian membawa pembahasan ke ranah implementasi AI di dunia usaha. Dr. Yin Mingming dari China Mobile International berbagi pengalaman mengenai penerapan AI di perusahaan melalui sesi “From AI Vision to Business Value: Lessons from Real Enterprise AI Deployments”.

Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan AI saat ini bukan hanya bagaimana mengembangkan teknologi, tetapi bagaimana mengubah investasi AI menjadi nilai bisnis yang terukur.

Sementara itu, CEO Telin Abdul Rahman Ansyori bersama sejumlah pemimpin industri membahas masa depan komunikasi melalui Executive Panel “Future-Proofing Communications: AI, Immersion and Inclusivity”. Perkembangan AI, inovasi layanan, serta kemitraan strategis menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan industri komunikasi.

Hari pertama juga menghadirkan Praveen Kumar dari Nokia yang membahas perkembangan jaringan optik dalam era AI. Infrastruktur optik dituntut mampu menghadapi kebutuhan bandwidth yang semakin besar sekaligus mendukung skala komputasi yang diperlukan aplikasi berbasis AI.

Diskusi tingkat pimpinan juga dilakukan melalui Leadership Summit yang digelar secara tertutup dan dikolaborasikan Telin bersama GLF. Para eksekutif membahas kebutuhan modal, keterbatasan rantai pasok, kerja sama lintas ekosistem, serta akses terhadap energi yang terjangkau untuk membangun infrastruktur yang mendukung AI.

Memasuki hari kedua, fokus BATIC 2026 bergeser semakin kuat pada cloud dan infrastruktur yang siap mendukung AI.

Sam Evans dari Teneo membuka pembahasan mengenai peran cloud dalam pertumbuhan perusahaan dan perekonomian Asia Pasifik. Cloud kini tidak lagi hanya dipandang sebagai teknologi penyimpanan atau komputasi, tetapi telah menjadi infrastruktur strategis yang menopang transformasi digital perusahaan dan pemerintahan.

Perspektif kebijakan Indonesia disampaikan melalui keynote Menteri bertajuk “Strengthening Indonesia's Digital Transformation: Safeguarding Indonesia's Digital Future in the Age of Cloud and AI” yang disampaikan Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.

Edwin menegaskan bahwa perkembangan cloud dan AI harus dibangun di atas inovasi sekaligus kepercayaan, keamanan, dan inklusivitas.

As cloud and AI continue to reshape our economy and society, Indonesia's digital future must be built not only on innovation and infrastructure, but also on trust,” kata Edwin.

Menurutnya, pembangunan ekosistem digital membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, perkembangan teknologi diharapkan tidak hanya menghasilkan kemajuan digital, tetapi juga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat luas.

Pembahasan selanjutnya mengangkat peran data center dan konektivitas dalam perkembangan AI. Herson Suindah dari SM+ Holdings dan Michael McPhail dari MoraRepublic berbagi pandangan mengenai kebutuhan infrastruktur di era AI, sementara Toto Sugiri dari DCI Indonesia membahas faktor yang mendorong permintaan layanan cloud di kawasan Asia Pasifik.

LARUS Founder and CEO Lu Heng turut membahas perkembangan Bring Your Own IP atau BYOIP yang semakin berkembang menjadi lapisan strategis bagi penyedia cloud, konektivitas, dan data center.

BATIC 2026 kemudian mempertemukan para pemimpin teknologi dan telekomunikasi dalam Executive Panel “From Demand to Impact: The Next Phase of Cloud Innovation and Adoption in APAC”. Forum tersebut membahas adopsi cloud, integrasi AI, investasi, inovasi, serta kemitraan yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan digital kawasan.

Rangkaian konferensi utama ditutup dengan sesi Nicolas Barret, Chief Growth Officer iBASIS, melalui tema “Beyond the Cloud: Partnerships and Innovation Powering APAC's Next Digital Frontier”. Pesan yang kembali ditekankan adalah pentingnya kolaborasi lintas ekosistem untuk memasuki fase baru ekonomi digital Asia Pasifik.

Di luar panggung utama, BATIC 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan pendamping pada 24–27 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di sejumlah ruang dan panggung, termasuk Special Side Events Room, Surakarta Stage, dan Nusantara Stage.

Rangkaian tersebut mencakup APAC Member Workshop dari Mplify, Future Tech Leaders Summit yang digelar bersama GLF dan YTC, Closed-door Leadership Summit, MNV Session, Industry Perspectives dari i3Forum, TM Forum Workshop, serta Southeast Asia Council Meeting dari Mplify.

Berbagai Expert Spotlights turut memperluas diskusi dengan menghadirkan perspektif praktis dari para pelaku industri mengenai cloud, AI, autonomous networks, infrastruktur digital, dan masa depan ekosistem digital Asia Pasifik.

Yang membuat BATIC 2026 berbeda dari sekadar forum diskusi adalah adanya sejumlah kesepakatan bisnis yang lahir selama penyelenggaraan konferensi. Sejumlah strategic partnership signing menjadi bukti bahwa pembahasan mengenai masa depan digital mulai diterjemahkan ke dalam kerja sama konkret.

Telin dan PEACE menandatangani Letter of Intent terkait ekspansi PEACE. Telin dan TM Forum juga menyepakati Open API & Open Digital Architecture Manifesto.

Selain itu, Telin dan SM+ menandatangani Strategic Partnership MoU, Telin dan GTI menandatangani MoU mengenai kapasitas dan konektivitas proyek BSC Fiber Pair, serta Telin dan Mitratel menandatangani MoU terkait penjajakan transaksi aset Telin di Timor-Leste.

Kesepakatan tersebut memperlihatkan bahwa agenda konektivitas regional semakin membutuhkan model kerja sama yang melibatkan berbagai pihak sekaligus. Infrastruktur digital tidak lagi dapat dikembangkan hanya dengan mengandalkan satu perusahaan atau satu negara.

CEO Telin Abdul Rahman Ansyori mengatakan BATIC menjadi ruang bagi ekosistem digital untuk mengubah percakapan menjadi kolaborasi yang memiliki dampak nyata.

“BATIC is a platform where the digital ecosystem comes together to turn conversations into meaningful collaboration,” ujar Abdul Rahman.

Menurutnya, ketika konektivitas bergerak menuju era yang semakin digerakkan AI, industri membutuhkan kerja sama antara sektor infrastruktur, teknologi, dan bisnis untuk membangun fondasi digital yang tangguh, dapat diperluas, serta inklusif.

Di balik agenda teknologi dan bisnis tersebut, BATIC 2026 juga membawa pesan kemanusiaan. Konferensi berlangsung di tengah situasi gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dengan Bali dan kawasan Nusa Dua tetap beroperasi, lebih dari 2.700 delegasi internasional tetap mengikuti konferensi sembari menyampaikan solidaritas kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Sebagai bentuk dukungan, BATIC 2026 akan menyumbangkan 10.000 dolar AS yang dihimpun dari hasil pendaftaran dan sponsorship untuk mendukung upaya pemulihan masyarakat terdampak bencana.

Solidaritas tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan BATIC 2026. Forum yang membicarakan konektivitas global tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa konektivitas bukan hanya tentang jaringan, kabel, cloud, atau pusat data, tetapi juga tentang kemampuan manusia dan institusi untuk saling terhubung ketika menghadapi tantangan.

Dengan lebih dari 2.700 delegasi, ratusan perusahaan, puluhan negara, ribuan pertemuan bisnis, serta sejumlah kesepakatan strategis, BATIC 2026 memperlihatkan bahwa persaingan teknologi di Asia Pasifik berjalan beriringan dengan kebutuhan kolaborasi.

Masa depan digital kawasan akan ditentukan bukan hanya oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga oleh siapa yang mampu membangun ekosistem paling kuat. Dari Bali, pesan itu kembali mengemuka: konektivitas yang tangguh, cloud yang siap berkembang, dan AI yang memberikan nilai nyata membutuhkan kerja bersama lintas negara, industri, dan kepentingan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.