CBN dan Alibaba Cloud Percepat Adopsi AI di Indonesia 27 Aug 2026 Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja 27 Aug 2026 Cuaca Bandung 27 Agustus 2026, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 CBN dan Alibaba Cloud Percepat Adopsi AI di Indonesia 27 Aug 2026 Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja 27 Aug 2026 Cuaca Bandung 27 Agustus 2026, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026

Banjir Impor Susu Disebut Gegara Perjanjian Dagang, Mendag Buka Suara

Desi Rossilawati
Rabu, 20 November 2024 | 15:30 WIB
Bagikan
Banjir Impor Susu Disebut Gegara Perjanjian Dagang, Mendag Buka Suara

VISI.NEWS | JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso buka suara terkait perjanjian dagang yang disebut menjadi biang kerok banjirnya impor susu. Perjanjian dagang disebut membuat impor susu bebas bea masuk atau 0%.

Budi menjelaskan impor susu tidak semuanya bebas bea masuk. Jadi, ada yang tetap dikenakan bea masuk dari 2,5% hingga 4%.

"Kan kalau memang susu itu kan ada 2 HS ya. Yang satu itu memang 0%, yang satu 4% dan juga ada yang 2,5% sampai 4%. Karena ini (0%) ada yang ASEAN, Australia, New Zealand FTA (Free Trade Agreement), dan juga ada yang Indonesia-Australia FTA," kata Budi di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2024).

Namun, impor susu yang dilakukan dari negara-negara tersebut hanya berupa bahan baku, bukan susu segar. Kemudian terkait impor susu juga dia menegaskan sesuai aturan atas rekomendasi dari kementerian terkait.

"Kalau impor susu ini kan sebenarnya sudah diatur di dalam Permendag 36 juncto 8, itu setiap impor perjanjian itu harus ada rekomendasi, rekomendasi dari pemerintah teknis, dalam hal ini Kementerian Pertanian," terangnya.

Pihaknya tidak ada rencana untuk mereview ulang perjanjian dagang tersebut karena akan memakan waktu lama. Oleh karena itu pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementan untuk mengatasi masalah banjirnya impor susu.

"Jadi kita cari yang paling cepat, tapi pada prinsipnya instrumen untuk mengatur impor terhadap susu itu sudah ada," tuturnya.

RI Tak Impor Susu Segar

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan impor susu yang dilakukan Indonesia itu bentuknya susu skim bukan susu segar.

"Jadi kita impor susu dari New Zealand itu skim milk, bukan fresh milk. Yang diproduksi oleh peternak itu fresh milk. Jadi barang itu nggak bersaing," terangnya.

Susu skim merupakan bahan baku yang disebut dibutuhkan oleh industri susu. Sementara Indonesia tidak dapat memproduksi skim milk, maka diperlukan kemudahan impor.

"Kita tidak pernah impor susu segar," tambahnya.

Saat ditanya apakah akan ada pengkajian ulang dari perjanjian dagang yang berdampak ke susu, Djatmiko mengatakan imbasnya akan merugikan industri susu dalam negeri.

"Sekarang kalau misalnya direviu. Mau dinaikin tarifnya? Yang rugi siapa? Indonesia yang rugi. Makin mahal susu di Indonesia. Yang rugi kita dong, Ya rakyat Indonesia makin nggak bisa minum susu," pungkasnya.

Sebelumnya terkait biang kerok banjir susu akibat perjanjian dagang diungkap oleh Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi. Ia menyatakan, negara pengekspor susu, yang mayoritasnya dari Australia dan Selandia Baru, memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia.

Perjanjian tersebut menghapuskan bea masuk pada produk susu sehingga membuat harga produk mereka lebih murah 5% dari harga global saat masuk ke Indonesia.

"Negara-negara mengekspor susu memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia yang menghapuskan bea masuk pada produk susu sehingga membuat harga produk mereka setidaknya 5% lebih rendah dari harga pengekspor susu global lainnya," jelas Budi Arie di Kantor Kementerian Koperasi, Jakarta Selatan, Senin (11/11/2024). @desi

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.