Bandung Bidik Investasi Hijau Global

ED
PN
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:24 WIB
Bagikan
Bandung Bidik Investasi Hijau Global

VISI.NEWSPemerintah Kota Bandung membuka peluang investasi hijau berskala global untuk memperkuat ketahanan kota menghadapi perubahan iklim sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Peluang tersebut dipetakan melalui Bandung Climate Investment Opportunities Diagnostic Report yang disusun International Finance Corporation (IFC) dalam kerangka APEX Green Cities Program. Laporan tersebut secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Kota Bandung pada Jumat, 28 Agustus 2026, di Ruang Tengah Balai Kota Bandung.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kerja sama dengan mitra internasional dalam beberapa waktu terakhir semakin berkembang. Menurut dia, peluang investasi berbasis iklim dapat menjadi salah satu pintu bagi Bandung untuk memperkuat posisi sebagai kota tujuan investasi berkelas dunia.

Kerja sama kita sekarang ini sudah makin meningkat dan makin beragam. Tentunya, dalam hal peluang untuk berinvestasi dalam kerangka climate investment, ini menambah kesempatan Kota Bandung untuk menjadi salah satu kota tujuan investasi kelas dunia,” kata Farhan.

Menurut Farhan, investasi hijau tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi. Investasi tersebut juga dapat diarahkan untuk menjawab persoalan perkotaan yang secara langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat, mulai dari sampah, kualitas udara, ruang terbuka hijau dan biru, hingga ketersediaan air.

Pertumbuhan penduduk dan kepadatan Kota Bandung menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan infrastruktur lingkungan. Semakin padat aktivitas perkotaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem pengelolaan lingkungan yang mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kualitas udara.

Farhan mengatakan, persoalan tersebut tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan keberadaan industri besar. Pasalnya, Kota Bandung saat ini tidak lagi memiliki industri besar yang kerap menjadi salah satu sumber tudingan ketika membahas buruknya kualitas udara di sebuah kota.

“Kami juga menghadapi tantangan dengan semakin padatnya penduduk di Kota Bandung. Pada saat yang sama kami mengalami masalah dengan kualitas udara di Kota Bandung yang dianggap sekarang ini sebagai salah satu yang terburuk di Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, pendekatan yang ditawarkan melalui climate investment diarahkan untuk melihat persoalan secara lebih menyeluruh, termasuk sektor transportasi, bangunan, energi, sampah dan tata ruang.

Sektor air juga menjadi perhatian serius Pemkot Bandung.

Saat ini, kebutuhan air bersih Kota Bandung masih bergantung pada pasokan air baku dari luar wilayah. Pada saat yang sama, sejumlah sungai yang menjadi bagian dari sistem lingkungan kota masih menghadapi persoalan kualitas dan kontaminasi.

Kondisi tersebut membuat peningkatan kualitas air baku dan air tanah menjadi salah satu peluang yang ingin dikembangkan melalui investasi hijau.

“Kami juga mengundang climate investment ini untuk menyentuh kualitas air baku di Kota Bandung. Sampai saat ini untuk distribusi air bersih Kota Bandung, kami masih harus membeli air baku dari wilayah di luar Kota Bandung,” kata Farhan.

Menurut dia, investasi pada sektor air berpotensi memberikan manfaat ganda. Selain meningkatkan kualitas lingkungan, investasi tersebut dapat memperkuat kemandirian penyediaan air bagi masyarakat.

Dalam jangka panjang, Pemkot Bandung bahkan memiliki cita-cita agar air keran dengan kualitas aman untuk diminum dapat tersedia setidaknya di hotel-hotel berbintang di Kota Bandung.

“Apabila memang ada peluang bagi climate investment meningkatkan kualitas air baku di Kota Bandung dan air tanah di Kota Bandung, maka cita-cita kami untuk memproduksi air keran yang bisa diminum paling tidak di hotel-hotel berbintang di Kota Bandung akan memberikan nilai tambah yang luar biasa,” jelasnya.

Peluang tersebut menunjukkan bahwa agenda investasi iklim di Bandung tidak hanya diarahkan untuk memenuhi target lingkungan, tetapi juga dikaitkan dengan peningkatan kualitas layanan perkotaan dan daya saing kota.

Dukungan terhadap langkah Bandung tersebut datang dari Pemerintah Inggris.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Inggris dan IFC dalam penyusunan laporan tersebut.

Melalui Department for Energy Security and Net Zero, Pemerintah Inggris turut mendukung penyusunan kajian yang memetakan prioritas ketahanan iklim sekaligus peluang investasi hijau di Kota Bandung.

Jermey menilai, nilai penting laporan tersebut bukan hanya terletak pada data dan rekomendasi yang dihasilkan. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil kajian diterjemahkan menjadi kebijakan, proyek, dan investasi nyata.

“Laporan ini merupakan bagian dari upaya transformasi untuk masa depan. Laporan ini menyajikan analisis berbasis data mengenai prioritas ketahanan iklim Kota Bandung sekaligus mengidentifikasi berbagai peluang investasi hijau di Kota Bandung,” ujar Jermey.

Menurut Jermey, kerja sama tersebut menjadi salah satu contoh konkret kemitraan strategis Indonesia dan Inggris dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi berkelanjutan, transisi menuju net zero, serta aksi iklim.

Sejumlah tantangan Bandung yang disoroti dalam kerja sama tersebut antara lain polusi dan kualitas udara, pengelolaan air, pengembangan pariwisata, investasi, serta transformasi sistem pengelolaan sampah menjadi energi.

Pengalaman sejumlah kota di Inggris, seperti London, Oxford dan Glasgow, dinilai dapat menjadi sumber pembelajaran bagi Bandung dalam menghadapi persoalan serupa.

Karena itu, Pemerintah Inggris menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan dukungan pada tahap implementasi rekomendasi yang telah dihasilkan.

“Kami sangat senang dapat mendukung perjalanan Kota Bandung pada tahap ini. Kami juga berharap dapat terus bermitra dengan Pemerintah Kota Bandung dalam proses implementasi hasil laporan ini,” kata Jermey.

Sementara itu, IFC Country Manager Euan Marshall menjelaskan, kajian tersebut disusun melalui Climate Investment Opportunities Diagnostic dalam kerangka APEX Green Cities Program.

Bandung menjadi salah satu dari 30 kota di dunia yang tergabung dalam jaringan program tersebut. Program ini mendorong kota-kota untuk mengidentifikasi peluang investasi pada aksi iklim yang dinilai memiliki dampak paling besar.

Dari hasil kajian, terdapat 28 langkah atau kebijakan berdampak tinggi yang dapat diterapkan Kota Bandung. Jika diterapkan secara tepat, langkah-langkah tersebut diperkirakan berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca Kota Bandung hingga 22 persen pada 2035.

“Secara khusus terkait Climate Investment Opportunities Diagnostic terdapat 28 langkah atau kebijakan berdampak tinggi yang telah diidentifikasi. Jika seluruh langkah tersebut diterapkan secara tepat, emisi gas rumah kaca Kota Bandung diperkirakan dapat dikurangi hingga 22 persen pada 2035,” ujar Euan.

Target tersebut sekaligus menempatkan Bandung pada posisi strategis untuk menunjukkan kepemimpinan dalam aksi iklim, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di kawasan Asia.

Dari 28 langkah yang telah diidentifikasi, sekitar delapan langkah utama diperkirakan menyumbang sekitar 90 persen dari potensi pengurangan emisi.

Peluang tersebut tersebar di sejumlah sektor strategis. Di antaranya pembangunan dan pengembangan gedung hijau, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan sampah, transportasi publik, serta pengelolaan air.

Dengan demikian, investasi hijau di Bandung memiliki ruang yang cukup luas. Tidak hanya proyek energi bersih, tetapi juga pembangunan infrastruktur perkotaan yang lebih efisien dan rendah emisi.

Sektor persampahan menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki potensi besar. Sistem pemilahan, pengumpulan dan pengolahan sampah yang lebih baik dapat membantu mengurangi emisi sekaligus meningkatkan kualitas layanan lingkungan.

Konsep waste to energy juga menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat diarahkan menjadi sumber energi melalui teknologi dan sistem pengelolaan yang tepat.

Di sektor transportasi, penguatan Bus Rapid Transit atau BRT menjadi salah satu peluang investasi yang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Fasilitas park and ride juga menjadi opsi untuk mengintegrasikan kendaraan pribadi dengan transportasi publik. Sementara penerapan low emission zone di kawasan inti cagar budaya dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan emisi di kawasan dengan aktivitas perkotaan yang tinggi.

Pembangunan gedung publik yang hijau dan tangguh juga menjadi bagian dari peluang yang dipetakan. Bangunan yang lebih efisien dalam penggunaan energi dan sumber daya diharapkan dapat menekan biaya operasional sekaligus mengurangi jejak karbon.

Untuk mewujudkan berbagai proyek tersebut, keterlibatan sektor swasta dinilai penting. Salah satu skema yang dapat digunakan adalah public-private partnership atau kerja sama pemerintah dengan badan usaha.

Skema tersebut membuka kemungkinan pengembangan infrastruktur dan layanan perkotaan melalui pembiayaan serta keahlian sektor swasta, sehingga tekanan terhadap anggaran publik dapat dikurangi.

Euan mengatakan IFC terbuka untuk melanjutkan dukungan kepada Pemkot Bandung serta mitra dari sektor publik dan swasta dalam merealisasikan peluang investasi yang telah dipetakan.

Menurut dia, Bandung perlu mulai bergerak sejak sekarang karena target 2035 semakin dekat.

“Tahun 2035 lebih dekat daripada yang kita bayangkan sehingga target tersebut memang sangat ambisius. Namun, kita juga harus berani memikirkan sesuatu yang besar agar dapat mulai melakukan langkah-langkah yang memiliki dampak besar pula,” tuturnya.

Bagi Bandung, laporan climate investment tersebut menjadi titik awal untuk mengubah agenda perubahan iklim dari sekadar persoalan lingkungan menjadi peluang pembangunan ekonomi.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar mengidentifikasi persoalan, melainkan memilih proyek yang paling siap, membangun model pembiayaan yang layak, memastikan regulasi mendukung, serta menarik investor untuk masuk ke proyek-proyek tersebut.

Jika peluang tersebut berhasil diterjemahkan menjadi proyek konkret, agenda hijau Bandung dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan publik dan penciptaan peluang ekonomi baru.

Dengan dukungan mitra internasional, pemetaan investasi berbasis data, serta keterlibatan sektor swasta, Bandung kini memiliki modal awal untuk mengembangkan kota yang tidak hanya lebih rendah emisi, tetapi juga lebih tangguh, sehat dan kompetitif di tingkat global.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.