Asap Oranye di Langit Cilegon, Polisi Sebut Berasal dari Reaksi Asam Nitrat
VISI.NEWS | CILEGON — Kepulan asap pekat berwarna oranye yang membumbung dari kawasan industri Cilegon akhir pekan lalu akhirnya menemukan titik terang. Kepolisian mengungkap bahwa fenomena tersebut bukan disebabkan kebocoran, melainkan reaksi kimia yang melibatkan asam nitrat atau nitric acid (HNO3) di area PT Vopak Indonesia.
Zat kimia ini dikenal bersifat korosif dan beracun, serta lazim digunakan dalam berbagai industri seperti pembuatan pupuk nitrogen, bahan peledak, hingga pengolahan logam. Warna asap yang mencolok sempat membuat warga sekitar panik karena terlihat tidak biasa dan menyebar ke arah permukiman.
Kapolres Cilegon AKBP Martua Raja Taripar Laut Silitonga menegaskan bahwa kejadian tersebut murni akibat proses kimia di dalam fasilitas, bukan karena kebocoran tangki.
"Adanya proses reaksi kimia dari cairan asam nitrat (HNO3) atau nitric acid yang dialirkan dengan cara didorong dengan menggunakan gas nitrogen untuk membersihkan pipa ke arah scrubber yang selanjutnya menggunakan selang atau hose, dialirkan dan bercampur dengan base oil atau minyak pelumas," kata Martua dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan, saat proses berlangsung, petugas pengawas sedang tidak berada di lokasi untuk sementara waktu. Ketika kembali, mereka menemukan perubahan pada tangki penyimpanan.
"Setelah itu petugas kembali, di mana kempu agak sedikit menggembung permukaannya dan selanjutnya dibuka tutupnya, baru keluar gas bercampur asap yang berwarna oranye," ujarnya.
Di sisi lain, dampak kejadian ini mulai terasa di tengah masyarakat. Sebanyak 56 warga dari lingkungan Kalibaru, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, mendatangi fasilitas kesehatan setelah mengeluhkan gangguan kesehatan beberapa jam setelah asap muncul pada Sabtu (31/1/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
"Ada 56 warga Kalibaru wilayah terdekat, perbatasan Merak Grogol berobat ke Puskesmas Pulomerak," kata Kepala Puskesmas Pulomerak, Novita Ginting.
Keluhan yang dirasakan warga didominasi pusing, mual, dan sesak napas. Meski begitu, pihak puskesmas belum dapat memastikan hubungan langsung antara gejala tersebut dan paparan asap dari kawasan industri.
"Mereka mengeluh pusing, mual, sesak nafas. Kami tangani sesuai gejala, namun belum bisa dipastikan itu karena asap atau bukan," ujar Novita.
Dinas Lingkungan Hidup Cilegon telah memasang empat alat pemantau kualitas udara di sekitar lokasi, baik di dalam maupun luar area perusahaan. Hasil pemantauan tersebut diharapkan bisa memberikan gambaran lebih jelas mengenai dampak lingkungan dari insiden ini.
"Untuk saat ini masyarakat dihimbau memakai masker dan berobat ke Puskesmas Pulomerak atau Grogol, jika merasakan gejala-gejala pusing, mual atau sesak nafas," kata Novita.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas industri berisiko tinggi membutuhkan pengawasan ketat dan respons cepat, terutama ketika dampaknya mulai dirasakan langsung oleh warga di sekitarnya. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!