AS-Iran Kian Memanas, Serangan Balasan Hantam Kuwait dan Pangkalan Militer AS

ED
PN
Minggu, 19 Juli 2026 | 14:01 WIB
Bagikan
AS-Iran Kian Memanas, Serangan Balasan Hantam Kuwait dan Pangkalan Militer AS

VISI.NEWS - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang semakin berbahaya setelah kedua negara saling melancarkan serangan terhadap sasaran militer, infrastruktur strategis, hingga fasilitas energi di kawasan Teluk. Eskalasi terbaru pada Minggu (19/7/2026) ditandai dengan serangan udara Amerika Serikat yang diklaim sebagai aksi balasan atas tewasnya personel militer AS di Yordania, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang dua pangkalan militer Amerika di Kuwait menggunakan drone.

Rangkaian serangan tersebut mempertegas gagalnya upaya gencatan senjata sementara yang sebelumnya sempat disepakati kedua pihak. Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari itu kini semakin mengancam stabilitas kawasan, terutama karena perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

AS Balas Serangan, Iran Hantam Pangkalan Militer di Kuwait

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan udara pada 19 Juli dilakukan untuk menghukum pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) yang dituding bertanggung jawab atas serangan rudal dan drone terhadap pasukan Amerika di Yordania. Dalam insiden tersebut, dua personel militer AS dilaporkan tewas saat mempertahankan pangkalan mereka, sementara satu lainnya masih dinyatakan hilang. Dengan tambahan korban tersebut, jumlah personel militer Amerika yang tewas sejak perang kembali pecah pada 28 Februari mencapai 16 orang.

Militer AS juga mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan udara malam kedelapan secara berturut-turut terhadap berbagai sasaran di Iran, termasuk fasilitas militer dan unit yang diduga terlibat dalam serangan terhadap pasukan Amerika.

Tak lama berselang, Iran mengumumkan operasi balasan dengan menyerang dua pangkalan militer Amerika di Kuwait. Teheran mengklaim berhasil menghantam gudang amunisi di Camp Udairi menggunakan drone serta menyerang sistem radar Patriot dan fasilitas pengawasan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem.

Selain Kuwait, Iran juga kembali melancarkan serangan ke sejumlah titik di Yordania yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika. Serangan ini menunjukkan bahwa Iran memperluas cakupan operasinya ke berbagai negara yang menjadi basis militer AS di kawasan Teluk.

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah menegaskan Amerika Serikat akan menerima "pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan" apabila terus melanjutkan operasi militernya. Ancaman serupa disampaikan penasihat militer senior Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, yang menyatakan Iran siap melanjutkan operasi ofensif skala penuh apabila serangan Amerika terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang.

Selat Hormuz Jadi Pusat Konflik, Infrastruktur Sipil Ikut Terdampak

Ketegangan kedua negara masih berpusat pada Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan minyak dunia. Sejak perang kembali pecah, Iran menutup akses pelayaran di kawasan tersebut dan menjadikannya sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Washington. Sebagai balasan, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran guna menekan ekspor minyak negara tersebut.

Konflik kini juga mulai menyasar infrastruktur sipil. Iran menuduh Amerika menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Desa Bonji, Provinsi Hormozgan, yang menyebabkan pasokan air bersih ke sejumlah wilayah selatan terputus. Kantor berita pemerintah Iran melaporkan sedikitnya tiga warga sipil tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Di Provinsi Khuzestan, delapan orang dilaporkan meninggal dunia dalam sepuluh hari terakhir akibat serangan yang terus berlangsung. Secara keseluruhan, Kementerian Kesehatan Iran menyebut sekitar 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya mengalami luka-luka sejak eskalasi terbaru dimulai.

Dampak konflik juga mulai dirasakan negara-negara tetangga. Pemerintah Kuwait menuduh Iran menyerang fasilitas sipil dan infrastruktur penting, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terganggunya pasokan air dan logistik. Warga dilaporkan mulai memborong air minum kemasan dan bahan kebutuhan pokok sebagai langkah antisipasi apabila perang semakin meluas.

Iran juga mengklaim telah menyerang pangkalan udara Amerika di Bahrain serta fasilitas militer Al-Azraq di Yordania. Sementara itu, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal yang diluncurkan Iran menuju wilayahnya.

Di tengah meningkatnya eskalasi, berbagai upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali perundingan damai belum menunjukkan hasil. Dengan aksi saling balas yang terus berlangsung, kekhawatiran terhadap meluasnya perang ke kawasan Teluk semakin besar. Jika tidak segera tercapai solusi politik, konflik ini berpotensi mengguncang stabilitas keamanan regional sekaligus mengganggu pasokan energi global melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.