AS-Iran Kian Memanas, Serangan Balasan Hantam Kuwait dan Pangkalan Militer AS
Selain Kuwait, Iran juga kembali melancarkan serangan ke sejumlah titik di Yordania yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika. Serangan ini menunjukkan bahwa Iran memperluas cakupan operasinya ke berbagai negara yang menjadi basis militer AS di kawasan Teluk.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah menegaskan Amerika Serikat akan menerima "pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan" apabila terus melanjutkan operasi militernya. Ancaman serupa disampaikan penasihat militer senior Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, yang menyatakan Iran siap melanjutkan operasi ofensif skala penuh apabila serangan Amerika terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang.
Selat Hormuz Jadi Pusat Konflik, Infrastruktur Sipil Ikut Terdampak
Ketegangan kedua negara masih berpusat pada Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan minyak dunia. Sejak perang kembali pecah, Iran menutup akses pelayaran di kawasan tersebut dan menjadikannya sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Washington. Sebagai balasan, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran guna menekan ekspor minyak negara tersebut.
Konflik kini juga mulai menyasar infrastruktur sipil. Iran menuduh Amerika menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Desa Bonji, Provinsi Hormozgan, yang menyebabkan pasokan air bersih ke sejumlah wilayah selatan terputus. Kantor berita pemerintah Iran melaporkan sedikitnya tiga warga sipil tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Di Provinsi Khuzestan, delapan orang dilaporkan meninggal dunia dalam sepuluh hari terakhir akibat serangan yang terus berlangsung. Secara keseluruhan, Kementerian Kesehatan Iran menyebut sekitar 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya mengalami luka-luka sejak eskalasi terbaru dimulai.
Dampak konflik juga mulai dirasakan negara-negara tetangga. Pemerintah Kuwait menuduh Iran menyerang fasilitas sipil dan infrastruktur penting, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terganggunya pasokan air dan logistik. Warga dilaporkan mulai memborong air minum kemasan dan bahan kebutuhan pokok sebagai langkah antisipasi apabila perang semakin meluas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!