VISI.NEWS | BANDUNG — Rilis jutaan halaman dokumen terbaru kasus Jeffrey Epstein oleh Kementerian Kehakiman Amerika Serikat berubah menjadi gempa politik dan sosial lintas negara. Bukan hanya memperpanjang derita para korban, arsip raksasa ini juga membuka kembali jejak relasi sosial Epstein dengan kalangan elite global — relasi yang kini berbuntut permintaan maaf publik, pengunduran diri pejabat, hingga bantahan keras dari tokoh-tokoh berpengaruh.
Skala dokumen yang mencapai sekitar 3,5 juta berkas, mencakup email, catatan perjalanan, foto, dan rekaman komunikasi, membuat dampaknya meluas jauh melampaui ruang sidang. Banyak nama yang muncul tidak dalam konteks dakwaan pidana langsung, tetapi cukup untuk memicu badai etika dan reputasi.
Di Eropa Utara, perhatian publik tertuju pada Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit. Korespondensi lama yang menunjukkan kedekatannya dengan Epstein pada periode 2011–2014 kembali menjadi sorotan tajam. Sang putri akhirnya angkat bicara secara terbuka.
“Saya menunjukkan penilaian yang buruk dan sangat menyesali pernah memiliki kontak apa pun dengan Epstein,” ujarnya.
Ia juga menyebut relasi tersebut sebagai sesuatu yang “memalukan”. Pihak istana menegaskan Mette-Marit memutuskan hubungan pada 2014 setelah merasa namanya mulai dimanfaatkan oleh Epstein untuk membangun pengaruh sosial.
Waktu kemunculan kembali isu ini menambah tekanan bagi keluarga kerajaan Norwegia, yang sedang menghadapi sorotan terpisah terkait proses hukum terhadap putra Mette-Marit, Marius Borg Hoiby. Kombinasi dua isu sensitif itu membuat monarki Norwegia berada dalam salah satu periode paling sulit dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak politik paling nyata terlihat di Slovakia. Nama Miroslav Lajcak, penasihat keamanan nasional pemerintah, ikut muncul dalam dokumen, memicu kontroversi cepat di dalam negeri. Tak lama setelah pemberitaan meluas, Perdana Menteri Robert Fico mengumumkan pengunduran diri Lajcak.
Dalam pernyataannya, Fico mengatakan pemerintah kehilangan “sumber pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa dalam kebijakan luar negeri”.
Ia juga menambahkan Lajcak “secara tegas membantah dan menolak” tuduhan yang diarahkan kepadanya. Laporan media menyebut adanya pesan teks lama antara Lajcak dan Epstein yang kini dipersoalkan secara etis, meski belum dikaitkan dengan tindak pidana.
Di Amerika Serikat, bayang-bayang arsip Epstein ikut menyentuh persiapan Olimpiade Los Angeles 2028. Ketua panitia penyelenggara, Casey Wasserman, terseret setelah email lamanya dengan Ghislaine Maxwell terungkap. Wasserman segera menyampaikan klarifikasi dan penyesalan.
“Saya sangat menyesal pernah memiliki keterkaitan apa pun dengan keduanya,” katanya.
Ia menegaskan korespondensi tersebut terjadi pada 2003, jauh sebelum kejahatan Maxwell diketahui publik, serta menekankan tidak pernah memiliki hubungan pribadi maupun bisnis dengan Epstein.
Inggris kembali menghadapi babak baru dari saga lama ketika nama Peter Mandelson, mantan Duta Besar Inggris untuk AS, kembali muncul. Catatan perbankan lama yang dikutip media menunjukkan transfer dana dari Epstein ke rekening yang dikaitkan dengannya pada awal 2000-an, sesuatu yang kini memicu tekanan politik lanjutan.
“Tuduhan yang saya yakini tidak benar... perlu saya selidiki,” tulis Mandelson.
Ia juga menyatakan mundur untuk menghindari “rasa malu lebih lanjut” bagi Partai Buruh. Sebelumnya, ia sudah pernah menyampaikan permintaan maaf kepada para korban Epstein atas hubungan sosialnya dengan terpidana tersebut.
Nama Presiden AS Donald Trump juga kembali muncul dalam kumpulan dokumen, sebagian besar dalam bentuk referensi, kliping berita, serta tuduhan lama yang belum diverifikasi. Gedung Putih menegaskan tidak ada tuduhan yang dianggap kredibel oleh FBI. Trump sendiri menanggapi santai.
“Saya sendiri tidak melihatnya, tetapi saya diberitahu beberapa orang yang sangat penting bahwa hal itu tidak hanya membebaskan saya, tetapi juga kebalikan dari apa yang diharapkan orang-orang,” ujarnya.
Selain para pejabat aktif dan mantan diplomat, arsip tersebut juga memunculkan kembali korespondensi lama yang menyeret nama tokoh bisnis dan politik internasional seperti Elon Musk, Howard Lutnick, Ehud Barak, Richard Branson, dan Pangeran Andrew. Sebagian email yang dipublikasikan memperlihatkan komunikasi sosial, rencana perjalanan, atau undangan pertemuan. Namun hingga kini, keberadaan nama-nama itu di dalam arsip belum otomatis menunjukkan keterlibatan dalam kejahatan, sesuatu yang ditekankan berulang kali oleh sejumlah pihak yang disebut.
Besarnya volume dokumen membuat isi keseluruhan arsip masih terus ditelusuri oleh jurnalis dan peneliti hukum. Namun satu hal sudah terlihat jelas: kasus Epstein kembali menjadi bom waktu reputasi global. Di luar aspek pidana yang masih harus dibuktikan melalui proses hukum, tekanan moral dan persepsi publik kini menjadi konsekuensi langsung bagi siapa pun yang namanya tercatat pernah berada di orbit sosial sang predator.
Rilis ini menegaskan kembali bahwa warisan kelam Epstein belum benar-benar berakhir. Setiap lembar arsip yang terbuka berpotensi memicu krisis baru — bukan hanya di ruang sidang, tetapi juga di istana, parlemen, dan ruang rapat para elite dunia. @kanaya