Anton Charliyan Menyesalkan Penyerangan Terhadap Ade Armando dan 6 Anggota Polri

ED
Selasa, 12 April 2022 | 12:13 WIB
Bagikan
Anton Charliyan Menyesalkan Penyerangan Terhadap Ade Armando dan 6 Anggota Polri

VISI.NEWS | JAKARTA - Kapolda Metro Jaya Irjen Fadhil Imran dalam keterangannya di Mapolda menyatakan telah terjadi insiden penaniayaan terhadap tokoh aktivis penggiat anti radikalisme & intoleran, Ade Armado, serta enam petugas kepolisian di depan Gedung DPR RI Senayan Jakarta Selatan, Senin 11 Mei 2022 saat terjadinya unjuk rasa (Unras) BEM SI. Akibat penyerangan itu para korban mengalami luka berat sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Menanggapi hal tersebut Mantan Kadiv Humas Polri Anton Charliyan, Selasa (12/4/2022), menyatakan rasa keprihatinan yang sangat dalam, dan sangat menyesalkan atas terjadinya insiden tersebut.

"Kejadian tersebut membuktikan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa sudah tidak lagi murni gerakan aksi para mahasiswa, tetapi dengan kasat mata sudah ditunggangi oleh para penumpang gelap yanh memang sudah ngebet ingin segera berkuasa dengan cara Inkontitusional, dengan menghalalkan segala cara. Salah satunya mencoba memancing di air keruh dengan membuat kerusuhan pada saat aksi demo tersebut," ujarnya.

Menurut Anton, pola ini merupakan pola klasik yang dikenal dengan "martir" yakni para pengunjuk rasa mencoba membuat kerusuhan, dengan menyerang petugas yang diharapkan oleh mereka, para petugas tersebut terpancing emosinya dan balik menyerang mereka, sehingga mereka terluka bahkan akan sangat bagus bila sampai meninggal dunia, sehingga akan menempatkan diri mereka sebagai korban atau playing victim dalam aksi tersebut. "Maka dengan demikian ada alasan untuk membuat kerusuhan yang lebih besar sampai terjadinya chaos , sebuah teknik kotor & licik untuk bisa menjatuhkan pemerintah," ungkap Anton.

Namun, tukasnya, rencana tersebut sudah terbaca dari jauh-jauh sebelumnya oleh para inteljen, sehingga mereka gagal melakukan misinya lebih jauh. Sebuah taktik kuno yang memang sangat efektif dan masih sering dilakukan oleh para perusuh untuk menciptakan situasi chaos di berbagai negara. "Jadi apabila ada yang meninggal dalam sebuah aksi demo, hal tersebut memang sengaja diseting untuk mencari mati, bahkan bila perlu diekekusi oleh kelompoknya sendiri yang menyamar sebagai petugas yang tidak dikenal, sehingga dengan demikian akan sangat mudah untuk menyerang, menyalahkan, menyudutkan dan menjatuhkan pemerintah," tandasnya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.