Antisipasi Rem Blong: Prinsip dan Teknik Aman Berkendara Truk di Turunan
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 23 Januari 2025 | 23:35 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Turunan curam merupakan tantangan besar bagi pengemudi kendaraan berat seperti truk, dengan risiko rem blong yang dapat menyebabkan kecelakaan fatal. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DIY, Bambang Widjanarko, menekankan pentingnya pemahaman medan dan penerapan teknik pengereman yang tepat oleh sopir.
Bambang menjelaskan bahwa sopir yang berpengalaman akan memanfaatkan exhaust brake sejak awal perjalanan di turunan, sehingga dapat menjaga keamanan dan mengurangi risiko rem blong.
“Kenapa sopir sering kendaraanya blong di tanjakan itu biasanya yang belum pengalaman lewat situ, kalau sopir yang sudah pengalaman itu dia akan menggunakan exhaust brake dan di awal sudah siap,” ujar Bambang, Rabu (22/1/2025).
“Jadi prinsipnya kalau bisa naik anda harus bisa turun, kalau bisa turun anda harus bisa naik, itu prinsip sopir truk. Jadi kalau bisa naik, kenapa turunya blong itu pasti salah, salahnya karena tidak kenal medan,” ujarnya.
Prinsip Mengemudi Truk di Turunan
Bambang menekankan dua prinsip utama bagi pengemudi truk:- Jika Truk Bisa Nanjak, Harus Bisa Turun: Sopir yang memahami kemampuan kendaraannya akan lebih siap menghadapi turunan.
- Hindari Penggunaan Service Brake Secara Berlebihan: Rem utama hanya boleh digunakan sesekali, karena penggunaan terus-menerus dapat menyebabkan kehabisan tekanan angin, yang akhirnya memicu rem blong.
Teknik Mengemudi yang Aman di Turunan
- Exhaust Brake: Harus digunakan sejak awal turunan dengan RPM rendah. Ini akan membantu menjaga kecepatan kendaraan tanpa perlu sering menginjak rem.
- Gigi Rendah: Selalu gunakan gigi rendah sejak awal, jangan mencoba menurunkan persneling ke gigi satu di tengah turunan, terutama jika kendaraan sudah melaju cepat.
Kasus Kecelakaan Akibat Rem Blong
Bambang juga menyinggung beberapa kecelakaan akibat rem blong, seperti di flyover Bumiayu dan turunan Kledung-Wonosobo, yang disebabkan oleh sopir yang kurang pengalaman atau tidak memahami panjang dan curamnya turunan. Sebagai penutup, Bambang mengingatkan bahwa pengalaman sopir menjadi kunci utama dalam mengemudi kendaraan besar di medan berat. Kesabaran dan pengetahuan teknik pengereman yang benar adalah modal utama untuk menjaga keselamatan di jalan. @ffrBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!