Anggota DPR Soroti Kebutuhan Kereta Langsung dari Bekasi ke Bandara Soekarno-Hatta
Tak hanya urusan mudik, ada sekitar 150 pemberangkatan KRL Commuter Line yang menopang kehidupan para pekerja komuter dari Bekasi ke Jakarta dan sebaliknya.
Di hari biasa saja, volume penumpang di stasiun ini menyentuh angka 70 ribu orang untuk layanan KRL, ditambah 5 ribu hingga 10 ribu penumpang jarak jauh. Jumlah ini dipastikan akan melonjak drastis berkali-kali lipat saat puncak arus mudik tiba.
Di balik padatnya angka-angka statistik tersebut, terselip sebuah alasan emosional mengapa masyarakat tetap setia pada kereta. Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, duduk di tepi jendela sambil memandangi lanskap sawah dan pegunungan yang bergerak di luar adalah sebuah cara merawat ingatan. Mengenang masa lalu sembari menikmati perjalanan ke luar kota yang tenang dan stabil.
Namun, di tengah romansa dan tingginya antusiasme masyarakat tersebut, ada pekerjaan rumah besar yang masih menanti. Tingginya minat publik belum sepenuhnya diimbangi dengan ekspansi rute yang terintegrasi penuh untuk kawasan-kawasan padat penduduk seperti Bekasi.
Salah satu urgensi yang mendesak adalah akses langsung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selama ini, warga Bekasi harus rela membuang waktu 3 hingga 4 jam, berganti-ganti moda transportasi dengan membawa koper besar, hanya untuk mengejar jadwal penerbangan.
Menyoroti celah ini, Sudjatmiko melontarkan sebuah usulan yang rasanya sudah lama diidam-idamkan oleh warga berjuluk Kota Patriot itu. Ia menilai integrasi antarmoda dari Bekasi menuju bandara harus segera direalisasikan tanpa perlu transit berulang kali.
"Kami sudah mengusulkan di Bekasi ini dibuat kereta langsung ke bandara. Sekarang memang bisa, tapi kan harus berpindah-pindah, bisa sampai 3 sampai 4 jam. Harusnya ada yang langsung dari Bekasi, ini menunjang warga Bekasi agar mudah kalau mau ke bandara," harapnya.
Lebih jauh dari sekadar rute bandara, Sudjatmiko juga menyoroti stagnasi pembangunan jaringan rel kereta secara nasional di Indonesia. Menurutnya, sudah saatnya negeri ini membangun jalur perintis dan tidak hanya sekadar merevitalisasi peninggalan kolonial.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!