Anggota DPR-RI Dedi Mulyadi Ungkap Adanya Penambangan Ilegal di Ciwidey
ED
Editor
M Purnama Alam
Jumat, 10 Maret 2023 | 05:18 WIB
VISI.NEWS | CIWIDEY - Anggota DPR-RI, Dedi Mulyadi, geram melihat adanya aktifitas penambangan yang diketahui tidak berizin di wilayah Rancabali, Kabupaten Bandung.
Dalam unggahan akun youtubenya @KANG DEDI MULYADI CHANNEL. bahwa dirinya sangat kaget setelah melihat kondisinya disekitar bukit curam, yang juga begitu dekat jaraknya dengan kawasan penduduk dan jalan raya.
Kemudian dirinya langsung mendatangi lokasi yang dilihat sedang melakukan aktifitas penambangan tersebut.
dan, menanyakan apakah tidak rawan longsor ? kepada para pegawai disekitar tempat itu.
"Enggal rawan ini longsor, kan bahaya atuh, ini lihat daerahnya aduuuuh, terus ada izinnya enggak ini?," ujarnya dalam keterangannya di unggahan tersebut, Kamis (9/3/2023).
"Insya allah engga akan, ada di si bos izinnya pak," jawab pegawai tersebut.
Selanjutnya mantan Bupati Purwakarta itu, menyuruh pegawai penambang untuk memanggil bosnya untuk di tanyai izin dan sebagainya."Sok mana panggil si bosnya, saya mau nanya aja, meni sadis kieu," katanya.
Setelah datang mandor tersebut, (S) yang merupakan warga Sapan, lalu Kang DM, sapaan akrabnya itu langsung mengajak terkait bagaimana selama ini dampak kepada lingkungannya," Aduh kumaha ieu teh rawan longsor, masalah izinnya dari Kementrian ESDM ada ?
"Muhun pak, tah pami perkawis izin mah teu aya, " kata mandor.
"Berarti ilegal atuh pa, ini kan daerah longsor rawan, terus barusan bilang gak ada izin, kumaha atuh bapak melanggar mereun. Cepat hentikan!" tegasnya.
Lebih lanjut, dalam percakapannya itu Kang DM menanyakan kembali kepada mandor apakah selama ini tidak ada pihak petugas yang menegur dan menyetop aktifitas tersebut. "Ini gak ada teguran camat, polsek, bupati, polres, ieu lamun bablas ka jalan raya jadi menimbulkan bencana, kendaraan yang bisa tertimpa batu, terhenti, kerugian berapa puluh miliar, yang bertanggung jawab siapa, ini berhentikan dulu sebelum ada izinnya, karena beresiko sangat tinggi," tuturnya.
"Memang pak, abdi teh bade menata nyungken bantos ka pihak petugas nusanesna, supados wayahna sa aman mungkin, tapi abdi oge nembe kadieu nambangna di bulan 8, abdi asli mah di Sapan Tegalluar, pas kadieu posisi na atos kieu pak ti dulu ge, ieu tanahna nu orang jalan baru," ujarnya.
Selain itu, Kang DM menegaskan kembali kepada mandor itu, bahwa penambangan dan pengerukan tanah tersebut agar betul-betul dihentikan, dan nanti prosedur kedepannya boleh tidak untuk beroperasi, harus berkomunikasi dengan dirinya terlebih dahulu.
"Saya minta nomor bapak, sekarang hentikan dulu, nanti kita komunikasi dengan Dinas Pertambangan Provinsi, dengan Kementerian ESDM, dan pemdanya. Kan sudah dibelah harus dirapihkan, tapi bagaimana agar tidak menimbulkan problem lingkungan, daerah legal gak boleh ditambang, kalau tanah legal berarti harus apa yang dilakukan bukan caranya seperti ini, kalau ini enggak berhenti beroperasi saya bawa bapak ke Polda," ujarnya.
"Bapak nambang disini, pendapatan cuma Rp. 26 jt seminggu, profit cuman Rp. 1jt tapi resikonya tinggi ada ribuan nyawa itu dalam bahaya teu kira-kira, nanaonan ngerjakeun nu rugi, saya mah nya'ah maksudna, bukan memutus alas rezeki bapak dan yang lainnya, tapi coba pikirkan lebih jauh lagi," pungkasnya.
Sementara itu, pernyataan Dedi Mulyadi mendapat reaksi dukungan positif dari warganet di kolom komentar unggahan Youtubenya itu. "Pa dedi ijin berkomentar, sudah berapa tahun proyek itu terjadi tapi pemerintah tidak ada tindakan, yg punya proyek tidak memikirkan ini jalan utama Ciwidey-Bandung, tidak tahu saat hujan sering berbarengan dengan banjir berbarengan dengan batu-batu kecil ke jalan dan membuat jalanan sangat berbahaya, pas kemarau juga sangat mengganggu lainnya licin akibat banyak pasir sehingga banyak korban dari kendaraan yang melintasi tersebut," tulis akun @Ntiurnurnarfida Febriyanti
"Setuju dengan kinerja KDM, yg peduli dengan lingkungan biar jauh dari bencana, dan semoga KDM menjadi pemimpin Jabar 1, Aamiin".
@gvr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!