Alfi Pemuda Pameungpeuk Kabupaten Bandung Bawa Nama Indonesia di Kejuaraan Homeless World Cup 2025
Ironinya, ketika negara belum mampu mengangkat mereka sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), sepak bola jalanan justru memberi panggilan kehormatan dan pengakuan sosial. Sebagai bagian dari Timnas Homeless, mereka memperjuangkan nilai-nilai yang sering dilupakan negara: pengakuan, martabat, dan keadilan sosial.
"Mungkin terdengar aneh. Tapi justru itu yang perlu kita renungkan: kenapa bisa-bisanya ada guru yang masuk Timnas Homeless?," lanjutnya.Pertanyaan besar pun muncul dari kisah Alfi dan timnas ini.
"Pertanyaannya bukan lagi kenapa bisa masuk, tetapi apa yang salah dengan sistem kita," tulis dalam unggahan akun Instagram tersebut.
"Kenapa ada profesi publik yang gajinya lebih kecil dari ongkos parkir bulanan di Jakarta?. Kenapa tenaga pendidik harus bergantung pada sumbangan dan pekerjaan sampingan agar bisa makan tiga kali sehari?. Kenapa yang disebut 'wakil negara' justru harus menemukan ruang pengakuannya bukan dari pemerintah, tapi dari sepak bola jalanan?," lanjutnya.
Keberangkatan timnas Homeless Indonesia ke Oslo tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan dan pengakuan terhadap martabat mereka. Melalui cerita Alfi dan rekan-rekannya, diharapkan masyarakat dan pemerintah semakin menyadari pentingnya reforma struktural dan perlindungan sosial bagi para tenaga pendidik honorer serta komunitas marginal lainnya.
Alfi Falhi Ramadhan, seorang guru honorer yang berani melangkah ke panggung internasional, menjadi simbol bahwa perjuangan dan semangat bertahan hidup tidak mengenal status ekonomi atau pekerjaan. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!