Alfi Pemuda Pameungpeuk Kabupaten Bandung Bawa Nama Indonesia di Kejuaraan Homeless World Cup 2025
VISI.NEWS | KAB. BANDUNG - Seorang guru honorer asal Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Alfi Falhi Ramadhan (25), mencuri perhatian setelah terpilih menjadi salah satu pemain dalam Timnas Homeless Indonesia yang akan berlaga di ajang internasional. Prestasi ini tidak hanya membanggakan secara pribadi, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan harapan bagi para tenaga pendidik honorer di seluruh Indonesia.
Alfi mengatakan bahwa keseharian ia mengajar di sebuah sekolah dasar yang hanya menerima gaji Rp 750 ribu per bulan bahkan ia menjadi driver ojek online (ojol) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada tahun ini ia terpilih untuk mewakili Indonesia di Kejuaraan Homeless World Cup 2025 di Oslo, Norwegia.
Dalam unggahan di akun Instagram @timnashomeless, yang dilihat VISI.NEWS, Sabtu (31/5/2025), Alfi mengatakan bahwa ia mengenakan seragam merah putih dengan lambang Garuda di panggung dunia.
"Dilapangan, ia tidak lagi honorer. ia pemain nasional," kata Alfi kepada VISI.NEWS, Jumat (30/5/2025).
Ia juga menegaskan bahwa keikutsertaannya di ajang internasional adalah untuk menyuarakan aspirasi dan harapan dari golongan yang sering terlupakan, seperti guru honorer yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi dan status.
Selain itu Alfi pun menjadi kapten Timnas Homeless Indonesia. Mereka mewakili komunitas yang selama ini hidup dalam ketidakpastian, namun tetap berjuang melalui sepak bola jalanan sebagai panggilan kehormatan dan pengakuan atas martabat mereka.
Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah guru honorer di Indonesia mencapai 704.503 orang. Banyak dari mereka dinggaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR), bahkan ada yang hanya menerima Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per bulan. Mereka mengabdi bertahun-tahun tanpa status tetap, tunjangan, maupun jaminan sosial.
Dalam konteks Homeless World Cup, istilah 'Homeless' bukan hanya merujuk pada orang yang tidur di emperan atau kolong jembatan. Mereka yang berisiko tinggi menjadi 'Homeless' adalah mereka yang berpenghasilan rendah/berada di negara-negara miskin, berasal dari ras minoritas, LGBTQI+, orang dengan HIV/AIDS, penyandang disabilitas, korban perang atau bencana, mencari suaka, maupun orang yang sedang dalam proses pemulihan dari trauma dan kecanduan.
Ironinya, ketika negara belum mampu mengangkat mereka sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), sepak bola jalanan justru memberi panggilan kehormatan dan pengakuan sosial. Sebagai bagian dari Timnas Homeless, mereka memperjuangkan nilai-nilai yang sering dilupakan negara: pengakuan, martabat, dan keadilan sosial.
"Mungkin terdengar aneh. Tapi justru itu yang perlu kita renungkan: kenapa bisa-bisanya ada guru yang masuk Timnas Homeless?," lanjutnya.Pertanyaan besar pun muncul dari kisah Alfi dan timnas ini.
"Pertanyaannya bukan lagi kenapa bisa masuk, tetapi apa yang salah dengan sistem kita," tulis dalam unggahan akun Instagram tersebut.
"Kenapa ada profesi publik yang gajinya lebih kecil dari ongkos parkir bulanan di Jakarta?. Kenapa tenaga pendidik harus bergantung pada sumbangan dan pekerjaan sampingan agar bisa makan tiga kali sehari?. Kenapa yang disebut 'wakil negara' justru harus menemukan ruang pengakuannya bukan dari pemerintah, tapi dari sepak bola jalanan?," lanjutnya.
Keberangkatan timnas Homeless Indonesia ke Oslo tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan dan pengakuan terhadap martabat mereka. Melalui cerita Alfi dan rekan-rekannya, diharapkan masyarakat dan pemerintah semakin menyadari pentingnya reforma struktural dan perlindungan sosial bagi para tenaga pendidik honorer serta komunitas marginal lainnya.
Alfi Falhi Ramadhan, seorang guru honorer yang berani melangkah ke panggung internasional, menjadi simbol bahwa perjuangan dan semangat bertahan hidup tidak mengenal status ekonomi atau pekerjaan. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!