Alasan Harga Pertamax Naik dan Mekanisme Penetapannya

Desi Rossilawati
Kamis, 18 Juni 2026 | 11:28 WIB
Bagikan
Alasan Harga Pertamax Naik dan Mekanisme Penetapannya

Ilustrasi./visi.news/ist.

VISI.NEWS | JAKARTA - Kenaikan harga BBM Pertamax pada (10/6/2026) lalu kembali membuka ruang pembahasan soal bagaimana harga bahan bakar non subsidi ditetapkan. Dalam penjelasan Pertamina Patra Niaga, penyesuaian harga tersebut disebut mengikuti mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan Pertamax series termasuk dalam kategori BBM non subsidi. Artinya, harga jual produk tersebut mengikuti perkembangan parameter pasar yang berlaku. Posisi ini berbeda dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang ditetapkan pemerintah tidak mengalami perubahan.

"BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi", ujar Roberth dalam keterangannya dikutip, Kamis (18/6/2026).

Dari penjelasan itu, konteks utama kenaikan Pertamax terletak pada statusnya sebagai produk non subsidi. Pemerintah tidak menetapkan harga Pertamax seperti Pertalite dan Biosolar. Harga Pertamax disebut bergerak mengikuti perkembangan biaya pengadaan energi serta kondisi pasar yang menjadi dasar evaluasi.

Namun, penyesuaian harga pada Juni 2026 tidak hanya dilihat dari pergerakan pasar internasional. Roberth menyebut, Pertamina Patra Niaga juga memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri. Dengan kata lain, penyesuaian harga tidak semata membaca harga pasar, tetapi juga mempertimbangkan daya beli.

Dalam keterangan yang sama, Pertamina Patra Niaga menyebut kenaikan harga Pertamax saat ini adalah 50% dari selisih harga pasar. Angka ini menjadi bagian penting dalam penjelasan perusahaan, karena menunjukkan bahwa penyesuaian belum sepenuhnya mengikuti selisih harga pasar. Pertamina juga menyatakan harga BBM sejenis di negara tetangga Asean tetap menjadi pembanding agar harga Pertamax tetap lebih kompetitif.

Klaim tersebut menempatkan kenaikan Pertamax dalam dua sisi. Di satu sisi, Pertamina Patra Niaga menegaskan penyesuaian harga sebagai konsekuensi dari mekanisme pasar untuk produk non subsidi. Di sisi lain, perusahaan menyebut penyesuaian tetap dilakukan dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional.

Roberth juga menjelaskan bahwa evaluasi harga BBM non subsidi dilakukan secara berkala setiap bulan. Evaluasi tersebut mengikuti perkembangan parameter keekonomian yang menjadi dasar penetapan harga.

"Pada prinsipnya, harga BBM non-subsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah," tambahnya.

Dengan demikian, kenaikan Pertamax pada Juni 2026 tidak berdiri sebagai keputusan tunggal, tetapi berada dalam kerangka harga pasar, formula pemerintah, evaluasi bulanan, dan pertimbangan daya beli masyarakat. Sementara Pertamax mengalami penyesuaian, Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah karena berada dalam skema harga yang ditetapkan pemerintah.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.