AI Bantu Peneliti, Bukan Gantikan Peran Manusia

Desi Rossilawati
Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:00 WIB
Bagikan
AI Bantu Peneliti, Bukan Gantikan Peran Manusia

Artificial Intelligence./visi.news/djkn.kemenkeu.go.id.

VISI.NEWS - Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence semakin luas dalam dunia penelitian. Meski mampu mempercepat berbagai tahapan riset, penggunaan AI dinilai tidak menggeser peran utama peneliti sebagai pihak yang bertanggung jawab atas validitas dan kualitas hasil ilmiah.

Peneliti Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Martaria Rizky Rinaldi, menegaskan bahwa AI sebaiknya dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti proses berpikir ilmiah. "Kehadiran kecerdasan buatan memang mempercepat pekerjaan penelitian, namun teknologi ini sama sekali tidak mengambil alih tanggung jawab ilmiah dari seorang peneliti," kata Martaria dikutip, Sabtu (18/7/2026).

Menurut Martaria, perubahan paling terasa terjadi pada cara peneliti mengelola literatur. Jika sebelumnya peneliti harus membaca seluruh artikel secara manual untuk menemukan pokok pembahasan, kini AI dapat membantu menyaring informasi awal dan menyajikan ringkasan secara cepat. Pada tahap penyusunan naskah, teknologi tersebut juga mampu mengevaluasi struktur tulisan serta tingkat keterbacaan, sekaligus memberikan umpan balik secara real time selama proses penulisan berlangsung.

"Hal ini sangat menghemat waktu dibandingkan cara lama, di mana revisi kebahasaan biasanya baru dilakukan setelah naskah selesai diketik seluruhnya," ujarnya.

Meski menawarkan efisiensi, para akademisi mengingatkan bahwa hasil yang diberikan AI tidak boleh diterima begitu saja. Akademisi Universitas Muhammadiyah Magelang, Muji Setiyo, menilai AI hanya berfungsi untuk membantu pekerjaan teknis, sedangkan proses analisis dan pengambilan keputusan ilmiah tetap berada di tangan peneliti.

"AI hadir bukan untuk mengganti isi pikiran peneliti, melainkan mengefisienkan pekerjaan teknis. Namun, peneliti tidak boleh lupa untuk selalu melakukan human verification atau verifikasi fakta secara manual," ucap Muji.

Pandangan tersebut sejalan dengan penelitian Microsoft bersama Carnegie Mellon University yang mengungkap adanya risiko ketika pengguna terlalu bergantung pada AI. Melansir Live Science, penelitian yang melibatkan 319 pekerja dari berbagai bidang, mulai dari bisnis, pendidikan, seni, administrasi hingga komputasi, menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap AI, semakin rendah pula kecenderungan pengguna untuk menerapkan pemikiran kritis terhadap hasil yang diberikan.

Dalam penelitian tersebut, para partisipan diminta menjelaskan bagaimana mereka memanfaatkan alat AI generatif seperti ChatGPT dalam pekerjaan sehari hari serta sejauh mana mereka tetap menggunakan kemampuan berpikir kritis. Hasilnya menunjukkan sekitar 40 persen tugas diselesaikan tanpa melibatkan pemikiran kritis sama sekali.

Temuan itu menjadi pengingat bahwa meski AI mampu meningkatkan efisiensi penelitian, kualitas hasil ilmiah tetap bergantung pada kemampuan peneliti melakukan analisis, verifikasi, dan pengambilan keputusan secara bertanggung jawab.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.