Abu Vulkanik Menyebar, Dinkes: Segera Periksa Jika Gangguan Pernapasan
Lantai teras rumah di Kabupaten Sukabumi, yang tertutupi debu erupsi Gunung Anak Krakatau. /visi.news/andri somantri
VISI.NEWS - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan, mengingat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kini telah menyebar di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan paparan abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan. Gejalanya antara lain batuk, iritasi tenggorokan hingga sesak napas.
"Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika ada gangguan pernapasan," kata dia.
Menurut Masykur, paparan abu vulkanik juga perlu diwaspadai oleh masyarakat yang memiliki penyakit tertentu. Partikel abu yang sangat halus, apabila terhirup dalam jumlah besar atau dalam jangka waktu panjang, dapat menyebabkan gangguan paru yang lebih serius.
"Terutama ini bagi kelompok-kelompok rentan, seperti anak, lansia, dengan orang-orang yang punya penyakit asma, jantung, dan yang lainnya," ujarnya.
Selain mengganggu pernapasan, abu vulkanik juga dapat berdampak pada mata dan kulit. Paparan pada mata dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, serta sensitif terhadap cahaya. Sementara pada kulit, abu dapat menimbulkan iritasi, terutama pada kulit sensitif.
Untuk mengurangi risiko paparan, Masykur mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Masyarakat juga diminta menggunakan kacamata sebagai pelindung mata dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak.
"Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Kurangi aktivitas di luar kalau bisa ya, seperti sekarang hari libur, jika tidak ada kegiatan mendesak," kata dia.
Abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda diketahui menyebar hingga wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Kondisi tersebut mulai disadari warga pada Minggu pagi ketika lantai rumah terasa kasar saat diinjak.
Saat disapu, debu yang terkumpul terlihat lebih pekat dibandingkan debu biasa. Abu juga tampak menempel di atap rumah, daun tanaman hingga kendaraan yang terparkir di sekitar rumah warga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!