Abu Vulkanik Ganggu Sekolah, KDM Izinkan Belajar Daring
Peralihan sementara ke pembelajaran daring juga memungkinkan siswa tetap mengikuti proses pendidikan tanpa harus melakukan perjalanan menuju sekolah dan beraktivitas di luar rumah.
Sebelumnya, masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat juga telah diimbau meningkatkan kewaspadaan menyusul terdeteksinya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga wilayah Jawa Barat.
Bogor dan Sukabumi Jadi Perhatian
Bogor dan Sukabumi secara khusus disebut Dedi sebagai wilayah yang dapat mengambil kebijakan pembelajaran daring apabila intensitas abu cukup tinggi. Namun, kewenangan tersebut juga berlaku bagi daerah lain yang mengalami kondisi serupa.
Artinya, keputusan pembelajaran tidak semata-mata didasarkan pada wilayah administratif, tetapi juga mempertimbangkan kondisi abu vulkanik yang terjadi di masing-masing daerah.
Kepala sekolah dapat memantau perkembangan situasi serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait sebelum menentukan metode pembelajaran yang paling aman bagi siswa dan tenaga pendidik.
Pembelajaran Tetap Berjalan dari Rumah
Jika sekolah memutuskan menerapkan pembelajaran daring, kegiatan belajar tetap dapat berlangsung dari rumah dengan memanfaatkan berbagai sarana pembelajaran digital yang tersedia.
Guru tetap dapat memberikan materi, tugas, maupun pendampingan kepada siswa secara jarak jauh. Dengan demikian, kondisi darurat akibat abu vulkanik tidak serta-merta menghentikan proses pendidikan.
Penerapan pembelajaran daring juga dapat dievaluasi mengikuti perkembangan kondisi udara. Jika situasi kembali aman dan paparan abu menurun, sekolah dapat mempertimbangkan untuk kembali menjalankan pembelajaran tatap muka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!