Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Sukabumi, Warga Diimbau Pakai Masker
Abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menyebar hingga ke wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. /visi.news/andri somantri
VISI.NEWS - Abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menyebar hingga ke wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Imbauan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi. Menurutnya, abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan.
Masykur menuturkan, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan sejumlah gangguan pernapasan. Kondisi tersebut juga berpotensi memperburuk penyakit yang sudah diderita, seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru lainnya.
"Pertama untuk pernapasan, dapat menyebabkan batuk, tenggorokan teriritasi, sesak napas, dan memperburuk bagi yang punya penyakit-penyakit asma, bronhitis dan penyakit paru lainnya," ujarnya.
Selain saluran pernapasan, paparan abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan mata dan kulit. Mata dapat mengalami kemerahan, perih, berair, hingga sensitif terhadap cahaya. Sementara pada kulit, abu dapat menimbulkan iritasi, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif.
Karena itu, Masykur meminta masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik.
"Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Kurangi aktivitas di luar kalau bisa, seperti sekarang hari libur, jika tidak ada kegiatan mendesak, ya kurangi aktivitas di luar," kata dia.
Dia juga mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit kronis, agar dilindungi dari paparan abu vulkanik.
Sementara itu, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai disadari warga di sejumlah wilayah Sukabumi pada Minggu (6/9/2026) pagi. Warga menemukan lantai rumah terasa kasar ketika diinjak.
Saat disapu, debu yang terkumpul terlihat lebih pekat dibandingkan debu biasa. Abu juga tampak menempel di sejumlah bagian rumah, termasuk atap dan kendaraan warga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!