8.925 Hektare Sawah di Sukabumi Kekeringan

ED
Andri Somantri
Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:51 WIB
Bagikan
8.925 Hektare Sawah di Sukabumi Kekeringan

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Aep Majmudin. /visi.news/andri

VISI.NEWS - Kemarau yang melanda Kabupaten Sukabumi mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, hingga 31 Juli 2026, seluas 8.925 hektare sawah dan tegalan mengalami kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Aep Majmudin menyatakan, kemarau menyebabkan debit air dari sejumlah sumber yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian mengalami penurunan.

"Luas sawah kita mencapai lebih dari 62.000 hektare. Dampaknya, menurut catatan petugas, sampai 31 Juli itu ada 8.925 hektare luas pertanaman kita yang memang terkena dampak dan yang terancam itu kurang lebih 687 hektare," ujarnya.

Lahan pertanian yang terdampak tersebar di 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Wilayah dengan luasan terdampak paling besar berada di Kecamatan Pabuaran, yang mencapai sekitar 3.125 hektare.

Selain Pabuaran, dampak kemarau juga tercatat di Kecamatan Kalibunder, Ciracap, Surade, Jampang Kulon, Waluran, dan Ciemas. Wilayah-wilayah tersebut merupakan kawasan yang menjadi salah satu lumbung pangan Kabupaten Sukabumi.

"Ini tersebar di 47 kecamatan. Yang paling besar itu ada di Pabuaran, 3.125 hektare. Kemudian di Kalibunder, Ciracap, Surade, Jampang Kulon, Waluran, Ciemas. Itu adalah lumbung pangan kita," tutur Aep.

Aep menuturkan, luasan lahan terdampak masih berpotensi bertambah karena sebagian lahan sudah ditanami, sementara sebagian lainnya belum diolah sebagai bentuk antisipasi petani menghadapi musim kemarau.

"Ini tentu setiap hari terus berkembang, karena memang hari ini ada yang sudah ditanami, ada yang kebanyakan belum diolah, karena memang petani juga sudah mengantisipasi," katanya.

Aep menyatakan, sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian di antaranya berasal dari sungai yang kemudian dialirkan melalui jaringan irigasi.

Menurutnya, selain faktor minimnya hujan dan mengecilnya debit sumber mata air, terdapat pula sejumlah jaringan irigasi yang mengalami kerusakan dan menjadi kewenangan pemerintah pusat maupun provinsi.

"Jadi memang debit sumber airnya, selain ada beberapa irigasi yang kewenangan pusat sama provinsi, beberapa rusak. Tapi yang paling utama, penyebabnya nggak hujan, kedua sumber-sumber mata airnya kecil, termasuk sekarang. sungai sungai besar debitnya berkurang, sehingga berdampak terhadap tanaman," pungkasnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.