Zulhas Pastikan Hentikan Impor Gula Konsumsi Tahun Depan
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 19 Desember 2024 | 18:38 WIB
VISI.NEWS | MALANG - Pemerintah Republik Indonesia memastikan akan menghentikan impor gula konsumsi, beras konsumsi, jagung pakan ternak, dan garam konsumsi pada tahun 2025.
Hal itu diungkapkan Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat meninjau kebun tebu Mitra PG Krebet Baru di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (19/12/2024).
"Kita optimistis bisa swasembada pangan. Seperti di Malang ini, halaman rumah saja bisa ditanami tebu. Asalkan petani bekerja keras, dan kalau sudah tanam jangan sampai rugi," ungkapnya kepada wartawan.
Salah satu upaya yang akan dilakukan untuk swasembada pangan, di antaranya perluasan lahan. Menurut dia, perluasan lahan saat ini sudah dilakukan.
"Kalau tidak impor, tentu petani juga akan senang, karena harga pastinya akan semakin tinggi," tuturnya.
Khusus untuk komoditas gula, menurut Zulhas, produksi gula tahun 2023 mencapai 2,2 juta ton, dan pada tahun 2024 meningkat menjadi 2,4 juta.
"Tahun depan (2025) ditargetkan mencapai 2,6 - 2,7 juta ton per tahun," jelasnya.
Lantas, untuk memenuhi kebutuhan gula nasional sebanyak 3,1 juta ton, Zulhas menyebut ada stok yang bisa dimanfaatkan.
"Insya Allah cukup (untuk memenuhi gula nasional)," kata dia.
Sementara itu, Staf Bagian Tanaman PG Krebet Baru, Akbar Broto Kusumo, mengatakan, untuk mendukung program swasembada pangan, PG Krebet Baru akan menguatkan dan menambah mitra petani, serta menambah perluasan lahan.
"Mitra kami saat ini 18.403 petani, dengan luas lahan total mencapai 23.401 hektar, dan produktivitas rata-rata 90 ton per hektar," tuturnya.
Dia menambahkan bahwa jumlah keseluruhan tebu yang ada di Kabupaten Malang mencapai 3 juta ton.
"Dari total jumlah itu, 1,8 juta ton dikelola oleh PG Krebet Baru dan sisanya masuk ke pabrik gula lainnya," kata Akbar.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Timur, H Kholiq, menyambut baik rencana pemerintah menghentikan impor gula. Sebab, dengan begitu, penjualan gula akan semakin lancar. Selain itu, harga gula lokal akan lebih mahal.
"Kalau impor disetop, maka bagus bagi petani," singkatnya.
Untuk diketahui, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) selama kurun waktu tahun 2016 hingga 2023, gula nasional mengalami defisit, dengan persentase kesenjangan mencapai 63 persen.
Pada tahun 2023, kebutuhan gula nasional setiap tahunnya berkisar 6,08 juta ton. Sedangkan kemampuan produksi gula nasional hanya sebatas 2,27 juta ton per tahun.
Adapun luasan lahan tebu nasional jumlahnya 0,2 juta hektar pada tahun yang sama. Hal ini terbilang kecil dibanding Brasil yang mencapai 10 juta hektar dan India 4,5 juta hektar.
Selain itu, dari sisi produktivitas tebu, Indonesia hanya mampu memproduksi gula 60 ton per hektar, jauh tertinggal dari Brasil yang mampu memproduksi gula 80 ton per hektar, India 100 ton per hektar, Thailand 82 ton per hektar, dan Australia 85 ton per hektar. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!