Waspadai ISPA dan Serangan Jantung, Dokter Tina Imbau Jemaah Haji Istirahat Total
- Jemaah haji Indonesia khususnya asal Jawa Barat telah selesai menjalankan rangkaian ibadah haji sampai puncaknya pada 9 Dzulhijjah 1446 di Arafah. Ustadz Haji Muslihudin melaporkan langsung dari tanah suci perjalanan ibadah haji tahun ini. Berikut laporannya.
VISI.NEWS | MEKKAH — Tim Kesehatan Kloter Jabar 7 (KJT 7) yang mendampingi jemaah haji asal Kabupaten Bandung mengimbau para jemaah untuk menjaga kesehatan pasca puncak ibadah haji. Dokter pendamping kloter, dr Tina Yunita, menekankan pentingnya istirahat total di hotel untuk memulihkan kondisi tubuh setelah rangkaian ibadah haji yang melelahkan.
“Setelah wukuf dan rangkaian ibadah lainnya, tubuh butuh pemulihan. Kami sarankan jemaah untuk istirahat total, kecuali saat salat. Jangan terlalu banyak beraktivitas dulu,” ujar dr Tina saat memberikan keterangan di Mekkah, Arab Saudi, Selasa (10/6/2025).


Menurutnya, keluhan yang paling banyak diterima saat ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “ISPA masih mendominasi laporan yang kami terima dari jemaah. Kami segera berikan penanganan agar tidak semakin parah dan menular ke yang lain,” jelasnya.
Selain ISPA, dr Tina mengingatkan agar jemaah mewaspadai penyakit menular lainnya seperti COVID-19, meningitis, MERS-CoV, dan polio. Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini ketika jemaah kembali ke Indonesia. “Kalau sudah di tanah air, cukup isolasi mandiri di rumah. Bila muncul gejala, langsung lapor ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa di kloter KJT 7, kasus yang dominan hanyalah ISPA. Namun, potensi serangan jantung tetap diantisipasi terutama untuk jemaah yang punya risiko tinggi. "Seluruh jemaah haji yang tergolong berisiko tinggi mengalami serangan jantung telah diberikan terapi pencegahan berupa obat pengencer darah dan penurun kolesterol. Terapi ini diberikan kepada jemaah yang memiliki penyakit diabetes melitus disertai satu faktor risiko koroner, antara lain hipertensi, kebiasaan merokok, usia di atas 60 tahun, atau obesitas, " jelas dr. Tina. Langkah ini, katanya, merupakan bagian dari upaya mitigasi dini agar jemaah tetap sehat dan terhindar dari komplikasi serius selama menjalani ibadah di Tanah Suci.
Pemberian terapi tersebut sejalan dengan panduan resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menekankan pentingnya pencegahan kejadian vaskular berat bagi pasien dengan risiko penyakit jantung. Terapi menggunakan Aspilet 80 mg dan atorvastatin 20 mg diberikan tanpa harus menunggu hasil EKG, dan bila pasien mengalami gangguan saluran cerna, Aspilet diganti dengan clopidogrel 75 mg. Terapi ini harus dilanjutkan hingga jemaah kembali ke Indonesia, dengan catatan pemberian Aspilet ditunda bila ada tanda perdarahan aktif seperti BAB atau BAK berdarah, luka, maupun konjungtiva anemis.
Ketika kembali ke Indonesia, dr Tina memberikan sejumlah tips agar jemaah bisa cepat pulih. “Makan bergizi dan tepat waktu, jangan tunggu haus baru minum — minimal 200 ml per jam. Istirahat cukup, jangan langsung buka koper atau menerima tamu. Fokus dulu pada pemulihan,” katanya.
Jemaah juga akan menerima kartu pemantauan kesehatan yang digunakan untuk pengecekan selama 21 hari. “Kalau ada gejala setelah 21 hari, berarti itu bukan dari Arab Saudi, tapi dari lingkungan di Indonesia,” tambahnya.
Selama mendampingi jemaah, dr Tina mengaku banyak belajar dan merasakan pengalaman yang luar biasa. “Kami tim kesehatan hanya memfasilitasi. Tapi karena jemaah sangat kooperatif dan saling mengingatkan, jadinya ada kolaborasi yang luar biasa dalam menjaga kesehatan bersama,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya disiplin menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan hand sanitizer, terutama saat berada di tempat umum atau berinteraksi dengan banyak orang. “Ini bagian dari ikhtiar kita agar tetap sehat sampai pulang ke rumah masing-masing,” pungkasnya.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!