Waspada 5 Modus Penipuan Digital Jelang Lebaran, Imbau Maybank Indonesia
VISI.NEWS | JAKARTA - Jelang libur Lebaran, masyarakat diminta untuk waspada penipuan digital jelang Lebaran yang semakin canggih. Maybank Indonesia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital untuk menjaga keamanan transaksi selama momen mudik dan libur panjang.
Peningkatan aktivitas transaksi selama periode mudik dan libur panjang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.
Direktur Kepatuhan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia), Yessika Effendi, mengatakan bahwa pelaku penipuan kini sering menggunakan teknik social engineering dan phishing untuk mendapatkan data pribadi serta akses ke perangkat korban.
"Modus penipuan digital terus berkembang dan menggunakan teknik manipulasi psikologis, dimana Pelaku memanfaatkan kepanikan korban agar secara sadar memberikan informasi sensitif seperti OTP, PIN, hingga password. Momentum Lebaran sering dimanfaatkan karena masyarakat cenderung lebih lengah dengan adanya berbagai kegiatan," ujar Yessika.
5 Modus Penipuan Digital Jelang Lebaran yang Harus Diwaspadai
Dalam praktiknya, pelaku penipuan biasanya menghubungi korban dengan mengaku sebagai pegawai bank, petugas pajak, dinas kependudukan, hingga aparat penegak hukum. Korban kemudian diinformasikan adanya transaksi mencurigakan dan diminta mengklik tautan palsu yang menyerupai situs resmi untuk membatalkan transaksi.
Tak hanya itu, pelaku juga kerap meminta korban mengunduh file APK berisi malware, melakukan share screen melalui WhatsApp, memberikan izin akses pada perangkat, hingga mentransfer sejumlah dana dengan dalih biaya materai atau administrasi.
Jika korban mengikuti instruksi tersebut, pelaku dapat mengambil alih ponsel dan mengakses mobile banking tanpa izin, membaca OTP dan notifikasi penting, mengubah password mobile banking atau M2U ID App (mobile banking milik Maybank Indonesia) serta akun email dan e-wallet, bahkan mengirim pesan palsu ke kontak korban.
"Perlu dipahami bahwa pelaku tidak meretas sistem bank. Mereka memanipulasi korban agar menyerahkan aksesnya sendiri. Karena itu, kewaspadaan nasabah menjadi benteng Utama dalam pengamanan dana mereka sendiri," tegas Yessika.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!