Warga Desa Cibeureum Kab. Bandung Olah Sampah Secara Mandiri
VISI.NEWS | BANDUNG - Warga Desa Cibereum Kecamatan Kertasari Kabupate Bandung, melakukan berbagai pengolahan jenis sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis secara mandiri atau dari warga untuk warga.
Seperti yang terlihat di lingkungan RW 025, sejak tahun 2017 silam, aktivitas pengolahan berbagai jenis sampah yang dilakukan warga setempat, sudah menjadi paradigma atau rutinitas sehari-hari.
"Sejak 2017, warga di RW 025 sudah melakukan aktivitas pengolahan berbagai jenis sampah dan yang mengelola itu dari warga untuk warga serta desa," kata Sekretaris Desa (Sekdes) Cibeurem, Agus Suryaningrat.
Kepada VISI.NEWS Sabtu (6/8/22), Agus menjelaskan, aktivitas pengolahan berbagai jenis sampah rumah tangga ini, tentunya digerakan secara mandiri dan dianggap berjalan efektip serta membuahkan penghasilan.
"Pengolahan sampah dalam konsep bank sampah ini, dibuat dan juga dikelola langsung oleh karang taruna dan warga desa secara mandiri, tidak ada keterlibatan dinas, apalagi bantuan dalam bentuk anggaran," jelasnya.
Adapun keterlibatan atau bantuan yang diberikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), lanjut Agus, itu dalam bentuk alat berat yang beraktivitas dilingkungan RW 010 guna membantu pengolahan sampah yang dilakukan oleh karang taruna dan warga masyarakat.
"Satu lagi di RW 10 soal bantuan dari dinas, hanya sebatas alat berat, tidak ada bentuk bantuan anggaran dari dinas, intinya ialah jika ada bantuan anggaran dinas , pasti tercatat di kantor desa," ujarnya.
Terpisah, Kepala Desa (Kades) Tarumajaya masih di Kecamatan Kertasari, Ahmad Iksan mengungkapkan, keberadaan bank sampah dan pengolahan berbagai jenis sampah selama ini diakui mendapat bantuan dana dari DLH Kabupaten Bandung seebesar Rp. 33
"Alhamdulilah desa kami mendapat bantuan pengembangan bank sampah tematik Rp. 33 juta, untuk mendukung anggaran pengelolaan program bank sampah di desa kami, selama ini berjalan," ungkapnya.
Menurutnya, ada dua macam sampah yang diolah oleh warga setempat yakni non organik jenis sampah bahan pelastik dan kertas juga kardus, kemudian sampah organik jenis sampah basah.
"Warga memilah sampah untuk kemudian diolah serta dijual, ada sampah kering seperti botol minuman, plastik terus kardus yang bisa dijual, dan sampah basah diolah menjadi pupuk organik" urainya.
Selanjutnya, warga atau pengelola bank sampah tersebut, mengemas sampah basah yang sudah diolah menjadi pupuk dengan kemasan 1 kantong seberat 3 kilo gram itu dijual dengan harga Rp. 3 ribu.
"Dikemas, 1 kantongnya 3 kilo gram dan dipatok harganya sebesar Rp. 3 ribu, marketnya 760 petani hasil penjualannya kemudian digunakan untuk upah mereka (masyarakat)," paparnya.
Terakhir, bahan baku olahan sampah organik dan non organik tersebut berasal dari sampah rumah tangga warga di 28 ke-RW an, kemudian ditampung oleh bank sampah.
"Mayoritas dari sampah rumah tangga yang dijual warga ke rongsokan atau langsung ke bank sampah yang ada di desa, dan alhamdulilah sudah menjadi teradisi," pungkasnya.@gus/eko
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!