Wagub Jatim Ungkap Dugaan Awal Kebakaran Gunung Bromo
Area tebing di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur dilanda kebakaran. Balai Besar TNBTS pun memutuskan menutup seluruh akses wisata ke lokasi tersebut, Sabtu (22/8/2026)./visi.news/Balai Besar TNBTS.
VISI.NEWS - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengungkapkan dugaan awal penyebab kebakaran di kawasan Gunung Bromo yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Menurut Emil, faktor kelalaian manusia sementara ini diduga menjadi pemicu awal kebakaran di kawasan Gunung Bromo. Meski demikian, pemerintah saat ini masih memprioritaskan upaya pemadaman api dan belum berfokus pada penelusuran penyebab kebakaran.
"Sampai saat ini persisnya itu kami memang masih melakukan fokus kita masih pada pemadaman. Tetapi kita tidak memungkiri bahwa memang ada kemungkinan faktor kelalaian dan faktor manusia di dalamnya yang menjadi awal dari munculnya api tersebut. Namun demikian sekali lagi fokus kita saat ini adalah pada pemadaman," kata Emil dalam keterangannya dikutip, Selasa (10/8/2026).
Upaya pemadaman sebelumnya terpusat di kawasan Puncak P-30 yang menjadi salah satu titik awal kebakaran hutan di Bromo. Luas area yang terdampak di kawasan tersebut mencapai 520 hektare.
"Puncak P-30 sudah dapat dikatakan padam per hari ini," ujarnya.
Namun, titik api baru kemudian muncul di kawasan Penanjakan, tepatnya di Lembah Dingklik. Emil mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab munculnya titik api tersebut.
Menurut dia, titik api baru itu bisa saja berasal dari insiden lain yang melibatkan tindakan manusia atau material yang terbawa angin dari lokasi lain.
"Kita tidak bisa memastikan apakah memang berasal dari insiden lain yang melibatkan tindakan manusia atau dengan adanya angin bisa membawa apakah itu daun, apakah itu material tertentu yang bisa kemudian ikut terbawa angin dan ternyata bisa menyebarkan api ke titik yang tidak berlokasi langsung bersebelahan gitu tapi terbawa oleh angin," ujarnya.
Ketua DPD Demokrat Jatim tersebut menyebut terdapat banyak variabel yang berpotensi memicu kebakaran. Kondisi tersebut membuat kesiagaan perlu terus dijaga, terutama di tengah musim kemarau.
"Terlalu besar dan terlalu beragam variabel yang bisa memicu di saat musim kemarau seperti ini," katanya.
Emil menambahkan, kebakaran akibat berbagai faktor pemicu tidak hanya terjadi di kawasan Bromo, tetapi juga di sejumlah titik lain di Indonesia. Hal tersebut, menurut dia, turut dibahas dalam rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
"Ini memang sebagaimana saya sampaikan juga ini juga terjadi di seluruh Indonesia di banyak titik tadi kami rakor dengan Menko Polkam ini terjadi meskipun penyebabnya beragam," ujarnya.
Kebakaran di kawasan Bromo diketahui bermula pada Senin, 3 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Seiring meluasnya titik api, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh akses wisata ke kawasan Gunung Bromo mulai, Sabtu (8/8/2026).
Hingga Senin (10/8/2026), luas kawasan Bromo yang terdampak kebakaran mencapai 742 hektare.
Proses pemadaman terus dilakukan melalui jalur darat dan udara. Dalam operasi tersebut, tiga helikopter, satu drone, dan delapan unit pemadam kebakaran dikerahkan. Sejumlah tim gabungan juga dilibatkan dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!