Viral di TikTok, “No Buy Challenge 2025” Ajari Masyarakat Lebih Bijak Mengelola Keuangan
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 31 Desember 2024 | 01:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Video bertajuk “No Buy Challenge 2025” tengah viral di media sosial, terutama di TikTok, seiring dengan datangnya tahun baru. Fenomena ini muncul di tengah pengumuman pemerintah yang berencana menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tren ini? Berikut penjelasannya.
No Buy Challenge adalah sebuah gerakan yang diciptakan untuk mengurangi gaya hidup konsumtif dan mendorong pola hidup minimalis. Dalam tantangan ini, masyarakat diajak untuk tidak membeli barang-barang non-esensial sepanjang tahun 2025. Sebagai contoh, banyak pengguna media sosial yang berencana untuk mengurangi pembelian pakaian, parfum, atau kopi harian mereka selama setahun ke depan.
Meski tampak sederhana, tantangan ini berpotensi memberikan dampak positif yang signifikan, baik dari segi pola pikir maupun peningkatan kualitas hidup, termasuk dalam pengelolaan keuangan. Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., mengatakan, “Kita diajarkan untuk menghemat uang dari hal yang tidak penting, mengurangi perilaku boros, dan lebih memperhatikan kebiasaan belanja yang sebelumnya tidak dipikirkan.”
Di era media sosial, masyarakat sering terpengaruh oleh tren dan minat publik, yang dapat memicu perilaku impulsif dan FOMO (Fear of Missing Out). Meity menyoroti bahwa banyak individu yang membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan atau belum dibutuhkan.
Tren ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih "melek finansial", yaitu lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Menurut Meity, melek finansial tidak berarti harus mengekang diri dengan penghematan ekstrem, melainkan tetap bisa membeli kebutuhan asalkan dipilih dengan cermat. Ia menekankan pentingnya pendekatan realistis dan fleksibel dalam menjalani tantangan ini, agar tidak mengganggu kebutuhan dasar serta bisa membantu menentukan prioritas pembelian. “Jika suatu barang tidak terlalu penting, kita dapat menunda atau melewatkan pembeliannya,” pungkasnya. @berlin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!