UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas
Tim riset multidisiplin Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)./visi.news/ist.
VISI.NEWS - Tim riset multidisiplin Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berhasil meraih Program Hibah United Board 2026 melalui penelitian yang mengangkat isu biodiversitas atau keanekaragaman hayati.
Penelitian tersebut mengusung judul 'Strengthening Biodiversity Journalism through Academic–Media Collaboration' dan melibatkan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) sebagai mitra strategis.
Tim riset UAJY diketuai Prof. Ir. Ign. Pramana Yuda, M.Si., Ph.D. dari Fakultas Teknobiologi. Anggotanya terdiri atas Bonaventura Satya Bharata, Ph.D., Olivia Lewi Pramesti, M.A., Didit Setiawan, M.A. dari Program Studi Ilmu Komunikasi, serta Yohanes Sigit Purnomo Wuryo Putro, Ph.D. dari Program Studi Informatika.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga mencakup kegiatan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Penelitian dijadwalkan berlangsung mulai Juli 2026 hingga Desember 2027. Program ini berangkat dari perhatian tim UAJY terhadap pemberitaan biodiversitas di media Indonesia yang dinilai masih minim dibandingkan isu perubahan iklim dan polusi.
“Secara global kan ada triple planetary crisis, tiga krisis utama tentang climate change, biodiversity dan polusi. Dari tiga isu tersebut, yang paling kurang mendapatkan perhatian itu isu biodiversitas,” jelas Prof. Pramana dalam keterangannya dikutip, Rabu (26/8/2026).
Petakan Pemberitaan Biodiversitas
Melalui kolaborasi akademisi dan media, tim riset UAJY akan memetakan pemberitaan mengenai biodiversitas sekaligus melakukan survei terhadap jurnalis. Survei tersebut dilakukan untuk melihat pemahaman dan perhatian media terhadap isu tersebut.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat praktik jurnalisme biodiversitas di Indonesia. Selain itu, kapasitas jurnalis dalam memahami serta mengangkat peroalan keanekaragaman hayati juga ditargetkan meningkat.
Program ini juga mencakup pengembangan kapasitas jurnalis melalui pilot project. Jurnalis yang tergabung dalam AMSI akan mengikuti pelatihan dan turun langsung ke sejumlah wilayah konservasi.
Tiga lokasi yang disiapkan dalam program tersebut yakni Bukit Turgo di Yogyakarta, Gunung Ungaran di Jawa Tengah, dan Kawasan hutan mangrove di Surabaya, Jawa Timur.
Sebelum melakukan peliputan di lapangan, para jurnalis akan mendapatkan pembekalan mengenai biodiversitas dari para ahli dan praktisi.
Program tersebut menargetkan 100 jurnalis AMSI. Para peserta diharapkan memiliki pengetahuan dan kompetensi yang lebih baik dalam meliput isu biodiversitas sehingga mampu menghasilkan pemberitaan yang berkualitas, berdampak, dan berkelanjutan.
UAJY Siapkan Pusat Data Ahli Biodiversitas
Selain pelatihan, tim UAJY juga akan membangun pusat data expertise berbasis situs web di bawah naungan UAJY.
Platform tersebut nantinya memuat rujukan para ahli dari berbagai bidang biodiversitas yang dapat dimanfaatkan jurnalis sebagai sumber informasi maupun narasumber dalam peliputan.
“Harapannya website ini dapat menjadi pusat rujukan para jurnalis ketika membutuhkan narasumber yang ahli di bidang biodiversitas,” kata Sigit Purnomo.
Kolaborasi tersebut mendapat sambutan positif dari AMSI. Organisasi tersebut menilai pengembangan kapasitas jurnalis di bidang biodiversitas masih dibutuhkan karena isu kehilangan keanekaragaman hayati di Indonesia belum mendapatkan perhatian yang sebanding dengan besarnya ancaman.
AMSI menyebut media membutuhkan pemahaman yang lebih kuat mengenai biodiversitas, akses terhadap para ahli, serta kemampuan menerjemahkan persoalan kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat.
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pelatihan di tiga wilayah konservasi.
“Kami berharap program ini tidak berhenti pada pelatihan di tiga wilayah, tetapi berkembang menjadi model kolaborasi akademisi dan media yang dapat menjangkau anggota AMSI di seluruh Indonesia,” kata Wahyu.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan mendorong semakin banyak media lokal menghasilkan jurnalisme biodiversitas yang berbasis sains, dekat dengan persoalan masyarakat, sekaligus dapat mendorong kebijakan dan tindakan nyata untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!