Trump Picu Kemunduran Pers: AS Dianggap Kian Otoriter, Media Kritis Ditekan
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 9 Mei 2025 | 22:30 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Kebebasan pers global mengalami kemerosotan paling parah dalam dua dekade terakhir. Dalam laporan tahunan World Press Freedom Index 2025, Reporters Without Borders (RSF) mencatat bahwa lebih dari separuh populasi dunia kini tinggal di negara-negara dengan kondisi kebebasan pers yang sangat mengkhawatirkan.
Amerika Serikat, di bawah masa jabatan kedua Presiden Donald Trump, disebut mengalami penurunan signifikan. RSF menyoroti langkah Trump yang dianggap 'mempersenjatai lembaga negara', memangkas dana bagi media independen seperti NPR dan PBS, serta melontarkan ancaman hukum terhadap media besar seperti The New York Times. Akibatnya, AS terlempar ke peringkat 57 dunia, turun dua peringkat dari tahun lalu dan kini berada di bawah Sierra Leone.
"Di Amerika Serikat, masa jabatan kedua Donald Trump sebagai presiden telah menyebabkan kemerosotan yang mengkhawatirkan dalam kebebasan pers, yang mengindikasikan adanya pergeseran otoriter dalam pemerintahan,” tulis RSF dalam laporannya yang dirilis menjelang Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Sementara itu, Indonesia mengalami kemerosotan drastis dengan menempati posisi 127 dari 180 negara, memperlihatkan kian sulitnya kondisi kerja jurnalis di dalam negeri. Penilaian RSF didasarkan pada aspek politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan yang mempengaruhi kerja pers.
Wilayah Timur Tengah juga mendapat sorotan tajam. Di Gaza, laporan menyebut hampir 200 jurnalis tewas akibat serangan Israel dalam 18 bulan terakhir. Ruang redaksi hancur, akses informasi diblokade total. Wilayah tersebut kini duduk di peringkat 163, hanya sedikit di atas Korea Utara dan Eritrea yang menjadi tiga terbawah dalam daftar.
Sebaliknya, Norwegia, Estonia, dan Belanda tetap menjadi negara dengan kebebasan pers terbaik, menempati posisi teratas selama bertahun-tahun. Eropa, secara umum, dinilai sebagai kawasan yang paling ramah bagi jurnalis, meski Jerman turun satu peringkat ke posisi 11 karena meningkatnya tekanan dari kelompok ekstrem kanan.
Direktur RSF Anja Osterhaus memperingatkan bahwa jurnalisme independen kini dianggap ancaman oleh banyak rezim otoriter.
"Ketika jurnalis dibuat menjadi miskin, mereka tidak lagi memiliki sarana untuk melawan musuh-musuh pers mereka yakni disinformasi dan propaganda,” pungkasnya. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!