Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Trump Luncurkan Proyek Pertahanan Rudal Luar Angkasa 'Golden Dome'

Desi Rossilawati
Rabu, 21 Mei 2025 | 22:10 WIB
Bagikan
Trump Luncurkan Proyek Pertahanan Rudal Luar Angkasa 'Golden Dome'
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencetuskan rencana ambisius dengan meluncurkan proyek pertahanan rudal luar angkasa bernama Golden Dome, yang diperkirakan menelan biaya hingga US$175 miliar atau sekitar Rp2.869 triliun. Proyek ini dirancang untuk melindungi Amerika Serikat dari potensi ancaman rudal, terutama dari China, yang dinilai Trump semakin membahayakan keamanan nasional. Trump menunjuk Jenderal Michael Guetlein dari Angkatan Luar Angkasa AS sebagai pemimpin proyek ini. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyebut Golden Dome sebagai tonggak penting bagi sistem pertahanan masa depan AS, dengan tujuan untuk 'melindungi negara kita' melalui teknologi mutakhir berbasis luar angkasa. Rencana ini dimulai dengan pembangunan ratusan satelit pengintai dan penyerang. Satelit ini berfungsi untuk mendeteksi, melacak, dan bahkan mencegat rudal sebelum memasuki wilayah udara AS. Model ini terinspirasi dari sistem pertahanan Iron Dome milik Israel, namun versi AS diklaim akan jauh lebih canggih dan luas cakupannya. Trump juga menyebut bahwa Kanada tertarik bergabung dalam proyek tersebut, di mana Perdana Menteri Mark Carney menyatakan bahwa pemerintahnya tengah membahas kerja sama dalam penguatan NORAD dan inisiatif pertahanan baru seperti Golden Dome. Sementara itu, biaya proyek ini diperkirakan bisa membengkak hingga US$831 miliar (sekitar Rp13.625 triliun) dalam dua dekade mendatang, menurut Badan Anggaran Kongres AS. Proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 2029, bertepatan dengan akhir masa jabatan kedua Trump jika ia kembali terpilih. Meski mendapat dukungan dari sebagian pihak, rencana ini menuai kekhawatiran dari Partai Demokrat, terutama menyangkut transparansi anggaran dan potensi konflik kepentingan. Kekhawatiran semakin menguat setelah muncul kabar bahwa perusahaan milik Elon Musk, SpaceX, menjadi kandidat kuat untuk menggarap proyek ini, bersaing dengan perusahaan teknologi pertahanan seperti Palantir dan Anduril. Namun, Senator Republik Kevin Cramer menepis kekhawatiran tersebut. Menurutnya, ekosistem pertahanan luar angkasa saat ini sudah beralih dari ketergantungan pada 'besi besar' alias kontraktor lama, menjadi lebih terbuka bagi perusahaan teknologi Silicon Valley. Golden Dome dirancang tidak hanya untuk mendeteksi, tetapi juga menetralkan rudal musuh sejak peluncuran. Meski belum jelas teknologi penyerangnya, diperkirakan sistem ini akan menggunakan sinyal pengacau untuk membuat rudal jatuh sebelum mencapai target. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.