Trump Janji Pangkas Harga Obat, Rujuk Harga Internasional
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 12 Mei 2025 | 22:10 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengeluarkan perintah eksekutif baru untuk menurunkan harga obat resep dengan mengacu pada tarif obat di negara-negara maju lainnya. Kebijakan ini menghidupkan kembali gagasan kontroversial dari masa jabatan pertamanya yang sempat diblokir pengadilan.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut langkah ini sebagai kebijakan 'Bangsa Paling Disukai' yang akan menyamakan harga obat di AS dengan negara yang membayar harga terendah di dunia. Ia mengklaim, kebijakan tersebut akan memangkas harga obat antara 30 hingga 80 persen.
"Mereka akan bangkit di seluruh Dunia untuk menyamakan kedudukan dan, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, membawa KEADILAN BAGI AMERIKA!" tulis Trump.
Selama ini, Amerika Serikat dikenal sebagai negara dengan harga obat resep paling mahal di dunia, dengan beberapa harga hampir tiga kali lipat dari negara-negara maju lainnya. Trump mengatakan perintah eksekutif ini akan diteken pada Senin pagi waktu setempat, namun belum membeberkan rincian teknis implementasinya.
Langkah ini diprediksi akan berdampak terutama pada program asuransi kesehatan publik Medicare. Para produsen obat memperkirakan kebijakan ini akan mencakup lebih banyak jenis obat, termasuk di luar daftar yang saat ini tengah dinegosiasikan melalui Undang-Undang Pengurangan Inflasi dari era Presiden Joe Biden.
Saat ini, Medicare tengah bersiap menerapkan harga baru untuk 10 jenis obat, yang akan mulai berlaku tahun depan, dengan lebih banyak obat lagi menyusul pada akhir 2025.
Meski kebijakan ini berpotensi menekan pengeluaran negara dan pasien, kelompok industri farmasi menentangnya keras. Alex Schriver, juru bicara Pharmaceutical Research and Manufacturers of America (PhRMA), menyebut penetapan harga oleh pemerintah akan berdampak buruk pada pasien.
Upaya serupa pernah diajukan Trump pada tahun 2020, namun digagalkan oleh pengadilan. Saat itu, kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat lebih dari US$85 miliar dalam tujuh tahun dan memangkas pengeluaran tahunan obat di AS yang mencapai lebih dari US$400 miliar. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!