Tren Positif Ekonomi Indonesia di Tengah Prediksi Resesi 2023
Namun walaupun di tengah gejolak ekonomi yang terjadi, pemerintah Indonesia masih menunjukkan reaksi positif. Bahkan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kuartal III-2022 akan mencapai 5,5% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Kuartal II-2022 yang tumbuh 5,44% (yoy).
Selain proyeksi dari BI, Mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri pun menyampaikan “Kalau ditanya apakah Indonesia akan resesi atau tidak, jawaban saya tidak,” ujarnya pada Investor Daily Summit. Kepercayaan Chatib terhadap perekonomian Indonesia dilandasi oleh fakta bahwa perlambatan ekonomi global akan berdampak terhadap penurunan ekspor, termasuk Indonesia. Namun, karena share dari ekspor Indonesia terhadap PDB relatif kecil dan harga batu bara yang masih relatif baik, Chatib menyebutkan dampaknya sedikit terbatas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menurut ekonom tersebut, Indonesia memang akan mengalami perlambatan, namun tidak sampai resesi.
Respon yang sama disampaikan oleh Dina Carolina selaku Director Operations Bank of India, “Perkembangan ekonomi Indonesia saat ini sudah terfokus untuk mendukung ekonomi produktif dan keuangan inklusif kepada komunitas UMKM, wanita dan pemuda yang relatif bersifat swadaya, yaitu dari Indonesia untuk Indonesia. Sehingga tidak terlalu terfokus oleh resesi global” ujarnya.
Senada dengan yang disampaikan oleh pegiat ekonomi tersebut, Asian Development Bank (ADB) pun melansir bahwa pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara menunjukkan tren positif. ADB melihat rata-rata pertumbuhan ekonomi diproyeksi berada di kisaran 5% pada 2023, jika dilihat secara global, angka pertumbuhan 5% ini terbilang tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan dunia dari World Bank (Bank Dunia).
Kendati demikian, Indonesia sebagai negara berkembang di Asia Tenggara masih berada pada jalur pemulihan yang sesuai. Pemerintah Indonesia pun meyakinkan bahwa kebijakan-kebijakan yang memadai telah disiapkan untuk menghadapi ketidakstabilan ekonomi. Namun, alangkah lebih baik untuk mempersiapkan keuangan secara lebih matang agar lebih tertata di masa ketidakstabilan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!