Thailand Wacanakan Pembangunan Tembok Perbatasan
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 4 Maret 2025 | 22:10 WIB
VISI.NEWS | THAILAND - Pemerintah Thailand mengungkapkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan pembangunan tembok perbatasan dengan Kamboja untuk mengurangi penyeberangan ilegal, terutama terkait maraknya jaringan penipuan online di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini merupakan bagian dari upaya internasional untuk memberantas sindikat kriminal yang memperdagangkan manusia ke pusat-pusat kejahatan siber.
Menurut laporan PBB, area perbatasan Thailand dengan Myanmar dan Kamboja menjadi titik rawan perdagangan manusia, dengan ratusan ribu orang dipaksa bekerja dalam operasi penipuan daring selama beberapa tahun terakhir.
Pada akhir pekan lalu, 119 warga Thailand berhasil dipulangkan dari Poipet, Kamboja, setelah kepolisian setempat menggerebek kompleks penipuan online yang memperbudak lebih dari 215 orang.
Juru bicara pemerintah Thailand, Jirayu Houngsub, menyatakan bahwa rencana pembangunan tembok tersebut masih dalam tahap kajian.
"Jika itu dilakukan, bagaimana caranya? Apa hasilnya dan bagaimana itu akan memecahkan masalah? Ini masih dalam tahap studi," ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh CNA, Selasa (4/3/2025).
Thailand dan Kamboja memiliki perbatasan sepanjang 817 km, dengan Provinsi Sa Kaeo dan Poipet sebagai salah satu titik terlemah dalam pengawasan, karena saat ini hanya dijaga oleh kawat berduri. Oleh karena itu, Kementerian Pertahanan Thailand mengusulkan pembangunan tembok sepanjang 55 km untuk memperketat pengamanan wilayah tersebut.
Penipuan online di Asia Tenggara telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan korban dari berbagai negara, termasuk Afrika Barat. Kasus ini mendapat perhatian lebih setelah aktor Wang Xing diculik dari Thailand ke Myanmar oleh sindikat kriminal yang mengelabui korban dengan tawaran pekerjaan palsu.
Saat ini, lebih dari 7.000 orang asing yang terjebak di Myawaddy, Myanmar, tengah menunggu repatriasi ke Thailand. Banyak di antara mereka masih terlantar dalam kamp-kamp milisi tanpa kepastian.
Seorang anggota parlemen Thailand menyoroti bahwa tindakan pemberantasan penipuan online masih belum cukup efektif, mengingat diperkirakan ada sekitar 300.000 orang yang masih terperangkap dalam operasi kejahatan ini hanya di Myawaddy saja. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!