Sugiat Santoso: Banyak Antek Asing yang Ingin Gagalkan Program Prabowo
Di mana, Sri Mulyani dianggap penganut mazab kapitalisme global pasar bebas. Padahal, Prabowo ingin kehadiran negara dalam konteks ekonomi. Hal itu sesuai dengan gagasannya jika merujuk buku Paradoks Indonesia.
"Biasanya, kalau kapitalisme global itu, mazabnya Milton Friedman yang ditengarai dianut Menteri Keuangan sebelumnya, itu negara hanya sebatas wasit. Netral. Membiarkan mekanisme pasar berjalan alami, persoalan itu merugikan rakyat, itu alami saja. Tapi, kalau Pak Prabowo kan, kalau kita baca ide gagasannya, selama kita mengikuti rekam jejak beliau di politik, mazabnya bagaimana negara hadir dalam konteks pertarungan ekonomi yang semuanya adalah memenangkan rakyat," ungkapnya.
Karenanya, apabila disimak baik-baik program Prabowo, contoh program MBG, yang tak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak, tapi di balik itu bagaimana membangun ekonomi akar rumput.
"Program MBG itu punya derivasi ekonominya yang sangat kuat. Bagaimana kebutuhan daging, bagaimana kebutuhan beras dan sebagainya, itu kan prinsipnya dikelola oleh pengusaha-pengusaha lokal. Kalau itu nanti berjalan, pasti ekonomi akar rumput akan kuat dan tumbuh. Begitu juga dengan Koperasi Desa Mara Putih," ungkapnya
"Insyaallah kalau itu di 2026 di eksekusi, pastinya ekonomi akar rumput, ekonomi kerakyatan yang itu dicita-citakan sejak dulu oleh Pak Prabowo Subianto akan lebih tumbuh. Begitu juga misalnya sekolah rakyat dan lain sebagainya," sambungnya.
Tak lupa, Sugiat menekankan pentingnya konsolidasi politik di dalam negeri untuk mendukung program pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia meminta relawan dapat mengambil peran sebagai penyalur, juru mata, dan juru telinga pemerintah pusat terkait dengan eksekusi program-program Prabowo.
"Konsolidasi politik akar rumput ini penting untuk dilakukan agar relawan dapat menjadi bagian dari kesuksesan pemerintahan Prabowo-Gibran," kata Sugiat.
Sugiat juga menyoroti upaya politik devide et impera yang dilakukan oleh beberapa pihak untuk mengadu-domba dan memecah belah bangsa. Namun, ia menilai bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran dan partai pendukungnya telah berhasil mengkonsolidasi kekuatan bangsa dan mencegah perpecahan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!