Risiko Bencana Tinggi, BPBD Kabupaten Bandung Bakal Lebih Gencar Edukasi Pra-Bencana
Kepala Pelaksana BPBD juga mengatakan, BPBD Kabupaten Bandung juga tidak bisa sendirian dalam upaya penanganan atau penanggulangan bencana di Kabupaten Bandung.
"Tentunya hal itu harus didorong oleh para OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait, para camat, kepala desa, maupun masyarakat luas di Kabupaten Bandung," ungkapnya.
Terlebih lagi, Uka Suska juga melihat dan mengamati kejadian bencana gempa bumi yang sempat terjadi di Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu. Selain itu, bencana banjir yang melanda delapan kecamatan di Kabupaten Bandung, yaitu Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Soreang, Solokanjeruk, Paseh dan kecamatan lainnya. Kemudian bencana longsor yang harus menjadi perhatian serius semua pihak.
"Kejadian banjir di Kabupaten Bandung itu harus menjadi perhatian semua pihak, berkaitan dengan kebencanaan tersebut. Kami juga melihat peranan jajaran TNI dan Polri yang sudah terlihat cukup bagus dalam membantu penanganan bencana," tuturnya.
Meski demikian, lanjutnya, dalam upaya penanganan bencana harus didorong banyak pihak agar bersama-sama dan bersinergi dengan petugas yang ada di lapangan.
"Sinergitas di antara mereka harus lebih ditingkatkan. Mengingat dalam kebencanaan itu menyangkut keselamatan dan jiwa manusia," ucapnya.
Uka Suska juga sangat tidak berharap ada kejadian tanggul jebol kembali terulang, seperti di Desa Citeureup Kecamatan Dayeuhkolot beberapa waktu lalu. Tanggul jebol itu terjadi yang kedua kalinya, sehingga berdampak pada permukiman warga.
Ia pun menyebutkan berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) curah hujan di Kabupaten Bandung masih cukup tinggi sampai bulan April 2025 mendatang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!