REFLEKSI | Ulama Berakhlak Contoh Umat

ED
Kamis, 23 Juni 2022 | 07:04 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Ulama Berakhlak Contoh Umat

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

PANGGILAN untuk seseorang yang sudah disebut ustad, merupakan panggilan kehormatan, adanya pengakuan masyarakat atas keilmuan yang di miliki seseorang dalam hal pengetahuan agamanya, sehingga melekat pada diri orang tersebut kehormatan-kehormatan seorang ulama, yang merupakan rangkaian dari pewarisan akhlak, pewarisan ilmu, dan pewarisan gaya interaksi sosialnya para Nabi SAW, dalam menyeru umat.

Dalam diri Nabi SAW ada keteladan, khususnya keteladanan akhlak, baru ilmu, dan hal yang menjadi keutamaan lainnya. Yang di contoh oleh para ulama, kiai, dan para ustad, dari Nabinya adalah, 'Akhlaknya Nabi' terlebih dahulu. "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu). Hadist ini adalah sebuah bukti, bahwa Nabi adalah seseorang yang di utus Allah, sebagai pejuang akhlak terlebih dahulu, karena apa yang nabi contohkan sedari ia kecil, Allah telah menjaga akhlaknya Nabi, jauh sebelum ia di utus menjadi Rasul.

Maka terdorong dari contoh akhlak mulia yang ada pada Nabi itulah kemampuan kita jadi condong untuk menjaga perilaku kita, menjaga kemampuan tak menyakiti siapapun dengan menjaga bahasa yang keluar dari mulut kita, hingga kemampuan kita untuk menjaga malu, menjaga rasa manusia lainnya, agar tidak tersakiti, dan jadi penyebab dosa kita.

Hingga dari semua keutamaan Nabi itulah, Allah anugrahkan, ia (Muhammad) menjadi manusia pilihan, manusia sempurna, yang Allah diberi pada nabi kita, kitab suciNya, kumpulan firman, petunjuk Allah di dalam Al Qur'an, kitab suci umat muslim, sebagai kitab pedoman untuk membangun akhlak bagi umatnya.

Jika akhlak nabinya Alquran, maka akhlak umatnya pun harus seperti itu. “Akhlak Nabi SAW adalah Alquran” (HR Muslim).

Akhlak adalah pilar pokok bagi terbentuknya pribadi mulia. Maka manusia dari umatnya Nabi, akan terlihat sudah mengikuti Nabi dengan benar, atau menyimpang jauh, barometernya bisa terlihat jelas, bagaimana ia menunjukan akhlaknya.

Akhlak merupakan positioning citra yang di munculkan dalam Islam, bukan kesan yang dipaksakan, tapi memang kesan atau citra yang melekat, menyatu, dan jadi ajaran utamanya para Nabi, yang dinomorsatukan, sebelum ajaran lainnya.

Maka lihatlah bagaimana kemudian para sahabat Nabi, mulai membangun kehebatan akhlaknya masing-masing, dari seseorang yang sebelumnya berakhlak hina, sampai memiliki dan matinya pun, ia menggenggam akhlak mulia.

Akhlak itu tabiat, perbuatan baik yang bukan dikesankan atau kepura-puraan, ia, karakter ahlaqul karimah, atau akhlak yang baik itu, merupakan bagian sifat asli, pembawaan, yang tidak bisa kehadirannya dipaksakan.

Maka bersyukurlah bagi yang sudah memiliki sifat bawaan akhlak baik ini !

Untuk yang belum, itu adalah perjuangan seumur hidup, yang harus ia usahakan ada, sehingga akhirnya, seiring perjalanan waktu, akhlak itu melekat padanya dengan sendirinya.

Jika pun ada dari umat ini yang tak memiliki karakter akhlak yang sesungguhnya, hanya kamuflase, bagian dari hanya mengesankan saja, atau kepura-puraan, Allah maha mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, hingga akan Allah uji manusia ini dengan kepura-puraannya itu, sehingga tak jarang, Allah perlihatkan bagaimana sifat aslinya, bagaimana perilakunya, yang ternyata si manusia umat Nabi ini, rupanya tengah bersandiwara dengan lakon akhlaknya.

“Mukmin yang paling sempurna akhlaknya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmizi).

Hal yang ditekankan dari kehadiran Nabi ke dunia, bahwa ia datang untuk menyempurnakan akhlak.

Maka perkara akhlak adalah perkara besar, perkara luar biasa, perkara yang tidak bisa dianggap sepele !

Karena akhlak mulia, akhlak terpuji itu sendiri adalah bagian dari mujizatnya para Nabi, yang diturunkan dari Nabi awal yakni Adam, sampai Nabi terakhir yakni Muhammad.

Jika akhlak sudah menjadi bagian awal yang di utamakan, keberadaan hal lainnya seperti bertambahnya ilmu, kemampuan bicara, syiar, mendongeng hal terkait agama, akan sebesar-besarnya dilakukan untuk membesarkan keutamaan agamanya, dan disyi'arkan dengan sebaik-baiknya penyampaian lewat akhlak mulia oleh penyampainya, ustad, kiai, atau ulama.

Ulama patut meniru akhlaknya Nabi dalam berdakwah. Nabi contoh agung dalam melakukan syiar Islam. Nabi memiliki kesempurnaan agama ini. Nabi yang wajib dinomorsatukan untuk diikuti, dalam hal syiar Islam mengedepankan dakwah, menyeru umat. Sehingga hasil akhirnya berupa kesempurnaan akhlak, kesempurnaan tabiat, kesempurnaan sifat yang terbangun dari umat.

Apa yang terjadi jika umat sudah sempurna akhlaknya ?

Akan terbangun kedamaian sosial. Akan terbangun toleransi beragama. Akan terbangun kecerdasan yang dilandasi kemuliaan. Akan terbangun semangat ilmu, semangat ruhani spiritual yang murni, mengejar kecintaan Allah, yang modal kita untuk bisa di cintaiNya, hanyalah dengan pendekatan modal akhlak. Akhlak yang baik, akan membuka pintu langit, disayang Allah, dan akan di sukai seluruh manusia. Subhanallah.

Bagi umat muslim yang sedang dalam menuju masa tuanya, cari dan temukan ulama yang berakhlak mulia, bukan ulama yang pintar bicara. Cari ulama ulama yang berakhlak utama, bukan ulama yang pintar menghimpun dana. Cari ulama yang yang berakhlak langit, tidak mencari ulama yang gila dunia.

Kita sangat bisa memilih ulama dengan patokan akhlak ini. Sedikit sekali ulama yang sekarang memegang kunci pewarisan Nabi yang sebenarnya. Cari mereka, dan temukan sifat akhlak mulia itu. Pada mereka ada kesederhanaan yang tidak dibuat-buat. Pada mereka ada cahaya yang akan membuat kita terbangun kebaikan akhlak kita.

Ciri lain dari kita telah menemukan ulama berakhlak langit adalah, kita terbawa santun, terbawa sopan, sifat kasar, emosian, nafsu amarah kita jadi turun dan hilang, bicara kita tak lagi api, hilang nafsu provokator mengompori orang, hati sudah penuh dengan dzikir, pikiran sudah diliputi ingat padaNya, maka itulah kebangkitan akhlak mulia kita.

Akhlak mulia umat hanya bisa di bangkitkan oleh ulama langit, pewaris Nabi. Akhlak jelek akan selalu menempel jika kita bertemu ulama dunia, yang tak semakin mendekatkan kita pada cahayaNya, namun akan mencelakakan kita, dengan meredupnya akhlak mulia yang sebelumnya sudah ada.

Mari kita ikuti dan cari ulama langit, untuk jadi contoh umat. Jangan terkecoh dan bangga bila kita dekat dengan ulama dunia, yang cirinya jauh dari akhlak mulia.

Alhamdulillah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.