REFLEKSI | Tahun Baru Islam dan Catatan Diri
Hijrah para sahabat Nabi yang di jadikan patokan pada penanggalan tahun baru Islam, sangat jauh saat itu dari hingar bingar kebahagiaan, keceriaan, dan sorak sorai, seperti apa yang kita lihat saat ini, hampir di seluruh pelosok negeri.
Ada keperihan, ada kenestapaan, ada kepahitan, dan keprihatinan yang harus menjadi sebuah perenungan besar.
Islam kuat setelah berhijrah. Madinah menjadi penguat kekompakan, dan persaudaraan umat muslim. Di Madinah antara dua kaum muslimin Anshar dan Muhajirin saling bersatu. Istilah ringan sama di jinjing, berat sama di pikul, telah mendarah daging, menyatu dalam keseharian kaum muslim ini.
Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk memulai awal baru bagi kita di tahun baru Islam ini?
1. Perkuat lagi semangat bertauhid, dan berislamnya. 2. Bangun kekuatan Islam bersama, dengan berjamaah atau berkelompok, bukan dengan berasik masyuk, lewat kesendirian dan memagari diri, dengan semangat individualismenya, bukan itu yang diinginkan Nabi. 3. Gali capaian individu, dengan memperbanyak pemahaman akan ilmu-ilmu yang diperlukan, dan bermanfaat bagi umat, dan masyarakat luas. 4. Lakukan pendekatan dengan masyarakat umum, di segala lapisan, untuk lintas agama. 5. Ulama, kiai, para ustad, jangan memiliki ego yang merasa ia berstatus sosial tinggi, hingga ia selalu harus di datangi, dan masyarakat harus 'menyembah'. Hilangkan kejumawaan itu, karena ini akan menjauhkan dari simpati, dan malah mendatangkan antipati. 6. Sudah saatnya para pembenci, penebar fitnah, pembuat konten hoax yang selalu menebar fitnah kita panggil, kita klarifikasi maksudnya, sehingga umat dibuat tidak terpecah, tapi akan teredukasi dan cerdas pada saatnya. 7. Kita buat tenang para jamaah, umat Nabi ini, untuk ustad, kiai yang seringkali membuat resah, dan mencari sensasi negatif, dengan berkedok agama Allah yang mulia ini, organisasi keagamaan dengan bermitra dan bekerjasama dengan aparat, wajib memanggil, dan menegur secara keras, sosok kiai, atau ustad tersebut, sehingga bisa diluruskan, dan andai sudah tak bisa dibenahi, wajib ia di bawa ke ranah hukum, ketika perbuatannya sudah mencederai dan mencoreng marwah agama kita. 8. Terus bangun kesadaran spiritual, optimisme manusia unggul, sehingga kita akan selalu merasa penuh syukur.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!