REFLEKSI | Kekuatan Cinta Ibrahim di Luar Nalar

ED
Jumat, 8 Juli 2022 | 06:14 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Kekuatan Cinta Ibrahim di Luar Nalar

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

Di dunia ini kita adalah mahluk sempurna yang dibekali akal pikiran, sebagai tanda kita mahluk berbeda dengan mahluk yang lainnya, dalam hal kesempurnaan. Berbahagialah manusia dengan kelebihannya, berbahagialah manusia dengan keberadaannya, yang disebutkan Allah sebagai pengemban tanggung jawab kekhalifahan, baik untuk skala kecil diri dan keluarganya, maupun untuk manusia lainnya.

Seperti Allah menegaskan, dalam firmanNya : "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"." (QS. Al Baqarah: 30).

Allah di sana sangat memuji dan membanggakan manusia. Akan diberi mandat, kepercayaan sebagai mahluk yang ia banggakan.

Sehingga, pernyataan Allah, "Ia lebih tahu, dan tak ada yang mengetahui selain Ia", menunjukan, bahwa Allah selalu memiliki rencana yang Ia akan titipkan pada segenap manusia, yang akan Allah beri amanah, dengan terus mengaping, mendampingi manusia yang ia beri amanahnya itu, hingga tuntas amanahnya sampai sukses manusia itu jalankan.

Nabi Ibrahim meninggalkan jejak sebagai seorang pencari Tuhan. Ia juga meninggalkan jejak sebagai tokoh berkarakter yang kecintaannya kepada Tuhannya, melebihi dari manusia biasa manapun yang Allah ciptakan ke dunia. Capaiannya itu belum ada yang mematahkannya. Tak ada yang melebihinya. Tak ada yang bisa melakukan apa yang Ibrahim sudah lakukan.

Sehingga generasi berikutnya akan mencatatkan Cinta Ibrahim sebagai cinta yang monumental, maka pantas perjalanan nabi Ibrahim, selalu saja dinapaktilasi, oleh semua manusia sedunia dalam ritual Ibadah haji yang sebentar lagi akan dilakukan, oleh anak keturunannya dari berbagai bangsa, dan ras, yang sekarang ini sudah datang di tanah Mekkah, yang dahulunya tempat Ibrahim meninggalkan Istrinya Siti Hajar, ditanah gersang, tandus, tak berpenduduk, jauh dari mana-mana, tak ada air, dan jauh dari siapapun, yang pada tanah gersang itu, Siti Hajar melahirkan Nabi Ismail, seorang keturunan Ibrahim, yang sama kwalitas keimanannya kepada Allah, seperti keImanan bapaknya, Nabi Ibrahim.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.