REFLEKSI | Kebaikan Orang
Atau kisah sahabat yang memberi sekeranjang kurma pada Nabi, namun Nabi berikan sekeranjang kurma itu pada sahabat lainnya yang kekurangan, padahal ia (sahabat itu ) berniat ingin membayar dosa yang ia lakukan setelah berhubungan intim dengan istrinya di siang hari saat bulan Ramadhan, tapi tak sanggup memenuhi apa yang Nabi berikan sebagai syarat penebus kesalahannya, sehingga akhirnya, kurma yang diberikan sahabat sebelumnya untuk Nabi, Nabi berikan pada sahabat ini. Apa kata Nabi,
"Ambilah kurma ini untuk kau sedekahkan ke fakir miskin." Lalu jawab lelaki sahabat Nabi tersebut,
"Ya Rasulullah, apakah ada orang yang lebih miskin dari kami?," jawab laki-laki itu dengan wajah tampak kebingungan, "Dari barat hingga timur, tidak ada orang yang lebih membutuhkan ini selain aku," lanjutnya.
Seperti itulah Nabi, ia tak mementingkan dirinya sendiri, yang ada padanya ia berikan, ia tak menumpuk harta, tak memanfaatkan umat, tak memperkaya diri sendiri...
Perhatikan rumah Nabi, yang bisa kita lihat betapa sederhananya rumah seorang pemimpin agung kita, perhatikan apa yang diwariskan kepada anaknya, Fatimah az Zahra, selain iman dan Islam.
Inilah satu contoh kebaikan yang tulus, dalam membantu saudaranya yang sedang dalam kesulitan.
Namun sekarang ini, upaya mau menolong, mau membantu orang dalam kesulitan sudah hilang, dan mulai menipis, kalopun ada yang mau membantu, itu malah menjadi bisnis yang dimanfaatkan oleh oknum berkedok agama.
Yang menyasar pada mencari orang-orang baik, orang-orang Soleh, orang kaya yang tulus, dan memiliki kepedulian mau membantu, malah jadi celah untuk didekati, dan mereka para saudara kita yang soleh ini, menjadi sisi yang dimanfaatkan, di eksploitasi kebaikannya oleh saudaranya sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!