REFLEKSI | Hijrah Nabi SAW
Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.
SEPERTI halnya kisah Nabi Muhammad SAW, untuk menjadi unggul, menjadi pemenang, ikhtiarnya harus hijrah dari Mekkah ke Madinah, dikarenakan Mekkah sebagai tempat tinggalnya, tanah kelahirannya, tidak kondusif untuk ditinggali.
Mekkah yang penuh gejolak, intrik, permusuhan, dan dimukimi oleh dominan umat yang membenci dan selalu mencari cara menghabisi Sang Nabi, saat itu betul-betul dikuasai sang angkara, dan kebodohan.
Saking bodoh dan tengelam dalam kebodohan itu, maka wajar disebut Jahiliyah, dan itu sebutan yang sangat akut dari tidak adanya cahaya kebenaran yang membuat masyarakat Mekkah menjadi pintar.
Maka ketika kita mentafaquri sebuah kisah perjalanan para nabi, orang soleh, dan manusia-manusia utama lainnya, kisah seperti ini selalu ada.
Baca kisah para wali. Orang-orang suci.
Dan manusia-manusia yang memiliki keutamaan, mereka tidak hidup menetap di wilayah kelahirannya.
Tapi sudah sunatullohNya, Allah memperjalankan manusia-manusia pilihanNya, ia tebar dan sebar, sehingga manusia tersebut bisa menjadi pemberi warna bagi daerah yang ia datangi, dan daerah yang baru pun, mampu membuka keberkahan baginya, sehingga pantas, daerah itu menjadi tempat persinggahan terakhirnya, sampai masa akhir usianya. Subnaalloh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!