REFLEKSI | Jaga Marwah Agama
Dan untuk mengambil mudahnya, dalam melihat penyimpangan umat, atau ulama yang berkedok agama, mudah sekali bagi kita umat Nabi !
Sehebat apapun ia berkata, dan mendakwahkan agama, serta menjual produknya, kita yang selalu menjaga marwah agama kita, harus selalu waspada !
Untuk si manusia lalai yang Allah kecam, karena sholatnya belum sampai hatinya, dan perilakunya mencontoh iblis, sehingga ia selalu merasa paling benar, dan dialah penunjuk pintu surga, maka kita akan melihat hidupnya, pola perilakunya, kebalikan dari apa yang Nabi contohkan.
Itu terlihat dari ia jauh dari perilaku Nabi yang sebenarnya. Karena pandainya ia memikat hati umat Nabi yang banyaknya polos, dan selalu berbaik sangka.
Maka berhati-hatilah dengan mulut manisnya ! Maka berhati-hatilah dengan bujuk rayunya. Berhati hatilah pada apa yang ia jual ! Dan berhati-hatilah dengan kedekatan kita !
Sudah banyak cara para penipu menggunakan kedok kefasihannya dalam berpenampilan, berbahasa, dan akhirnya merugikan umat, setelah umat merasakan sendiri, ia tertipu bujuk rayu, sosok yang ia anggap berlevel dewa, sebagai kiai andal, ataupun ustad beken, ternyata tak menjadi jaminan, penipu tetap penipu, dan kitalah yang mengalami kerugian dan apesnya.
Jika kita dekat, dan malah menjadi jamaahnya, bahkan kita sampai fanatik buta padanya, karena ia, kita anggap sebagai juru selamat kita, hancurlah iman kita pada Allah, hancurlah otak waras kita, kita menjadi ATM berjalannya, dan... kita dijadikan buta, tak mampu melihat kebenaran yang nyata, dan realistis.
Maka kembali pada agama adalah penuntun kita, untuk dapat berakhlak mulia, dan bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhiratnya dari jebakan iblis, maka, beragama lah kita sebagai umat Nabi, dengan beragama yang cerdas, kritis, dan terus belajar memahami, dan mendalami contoh mulia Nabi kita.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!