Penyuluhan dan Penggolongan Obat Tradisional di Indonesia
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 27 Desember 2024 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Jamu dan obat herbal, yang sering kita sebut sebagai obat tradisional, merupakan aspek penting dalam kearifan lokal masyarakat Indonesia. Sejak lama, ramuan-ramuan seperti beras kencur, paitan, dan temulawak dikenal sebagai solusi pengobatan alami. Di tengah maraknya obat modern, pemahaman tentang pengertian, kriteria, dan penggolongan obat tradisional menjadi sangat relevan, mengingat pentingnya melestarikan pengetahuan tersebut di kalangan masyarakat.
Obat tradisional didefinisikan sebagai ramuan berbahan tumbuhan, hewan, atau mineral yang telah digunakan secara turun temurun untuk tujuan pengobatan. Kriteria dan penggolongan obat tradisional terbagi menjadi tiga kategori: jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Setiap kategori memiliki kriteria pembuktian dan standarisasi yang berbeda, dari yang paling sederhana hingga yang sudah teruji secara ilmiah.
Jamu merupakan bentuk obat tradisional paling umum di Indonesia. Meskipun tidak memerlukan standarisasi yang ketat, jamu tetap harus memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan melalui regulasi. Jenis obat ini umumnya didasarkan pada pengalaman empiris. Namun, disarankan untuk mencantumkan klaim yang tidak berlebihan seperti "membantu…" atau "digunakan secara tradisional…". Di pasaran, terdapat puluhan ribu produk jamu yang beredar, di antaranya adalah Ambeven dan CURCUMA FCT.
Sementara itu, obat herbal terstandar (OHT) merupakan sediaan yang sudah diuji keamanan dan khasiatnya secara ilmiah. Proses pengujian dilakukan untuk memastikan konten aktif dan manfaat yang jelas dari bahan baku obat. Setelah melalui tahap standarisasi, produk OHT dapat mengajukan klaim yang lebih tinggi. Contoh produk OHT yang ada di Indonesia antara lain Diapet dan Tolak Angin.
Fitofarmaka adalah tingkat paling tinggi dari pembuktian obat tradisional. Sediaan ini telah menjalani uji praklinik dan klinik, menjadikannya lebih kredibel. Dalam proses ini, baik bahan baku maupun produk akhir harus memenuhi standar kualitas yang ketat. Fitofarmaka dapat mengajukan klaim yang kuat berkat bukti ilmiah yang mendalam. Stimuno dan Diabetadex adalah contoh sediaan fitofarmaka yang telah mengantongi reputasi baik dalam merangsang sistem kekebalan tubuh dan menurunkan kadar gula darah.
Dengan adanya penggolongan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami tentang obat tradisional dan penggunaannya yang tepat. Ini juga menjadi langkah positif dalam pengembangan industri obat berbasis herbal yang aman dan berkualitas, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. @berlin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!