Pemerintah AS Resmi Hentikan Mediasi Perdamaian Rusia-Ukraina
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 3 Mei 2025 | 20:40 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan mereka tidak lagi akan memediasi perundingan perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menjelaskan bahwa kini tanggung jawab untuk menyelesaikan konflik ada di tangan kedua negara yang bertikai.
“Kami tidak akan terus-terusan terbang ke berbagai penjuru dunia hanya untuk memediasi pertemuan. Sekarang saatnya Rusia dan Ukraina menyusun dan menyampaikan gagasan nyata untuk mengakhiri konflik ini,” ujar Bruce pada Jumat (2/5/2025), dilansir dari Euronews.
Meski begitu, Bruce menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen untuk mendukung perdamaian, namun tidak lagi berperan sebagai mediator utama. Keputusan ini diambil setelah beberapa upaya mediasi oleh AS, termasuk negosiasi gencatan senjata selama 30 hari dan pembicaraan dengan pejabat Rusia di Arab Saudi, tidak menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Presiden AS, Donald Trump, juga semakin frustrasi dengan situasi yang tidak berubah. Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa ia bisa mengakhiri konflik dalam sehari jika terpilih kembali. Ia sempat mengatakan bahwa jika tidak ada kemajuan, AS akan mundur dari proses mediasi perdamaian.
Meski mundur dari peran mediasi, AS tetap memberikan dukungan militer kepada Ukraina. Baru-baru ini, AS dan Ukraina menandatangani kesepakatan kerja sama mineral, yang memungkinkan AS untuk memberikan bantuan berupa peralatan militer, teknologi, atau pelatihan kepada Ukraina. Departemen Luar Negeri AS juga telah menyetujui penjualan peralatan pertahanan senilai 50 juta dollar AS (sekitar Rp 823 miliar) kepada Ukraina.
Selain itu, AS juga merencanakan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia, yang akan menyasar perusahaan energi besar seperti Gazprom dan beberapa perusahaan di sektor perbankan dan sumber daya alam. Sanksi ini masih menunggu persetujuan dari Trump.
Namun, meskipun AS berhenti memediasi, serangan besar Rusia ke Ukraina masih terus berlanjut, dengan korban tewas akibat serangan pada 24 April lalu mencapai 12 orang di ibu kota Kyiv. Trump pun menegaskan seruannya kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk menghentikan kekerasan yang semakin memakan banyak korban. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!