Paus Leo XIV Sebut Tuhan Tidak Dengarkan Doa Perang
Minggu Palma sendiri menandai masuknya Yesus secara triumfal ke Yerusalem menjelang penyaliban-Nya, yang diperingati umat Kristiani pada Jumat Agung, dan kebangkitan-Nya pada Minggu Paskah.
Perayaan tersebut dimulai dengan prosesi para kardinal, uskup, imam, dan umat awam yang berjalan memasuki lapangan sambil membawa ranting zaitun dan daun palma, yang beberapa di antaranya dianyam dengan indah.
Mereka berhenti di obelisk pusat, tempat Paus Leo menyampaikan doa pembuka, lalu melanjutkan prosesi menuju altar untuk memulai Misa.
Homili Paus Leo XIV
Dilansir dari Vatican News, dalam homilinya, Paus Leo merefleksikan pewahyuan Yesus tentang diri-Nya sebagai Raja Damai, bahkan ketika kekerasan mengelilingi-Nya.
“Ia tetap teguh dalam kelembutan, sementara yang lain membangkitkan kekerasan. Ia mempersembahkan diri-Nya untuk merangkul umat manusia, bahkan ketika yang lain mengangkat pedang dan tongkat,” kata Paus.
Paus Leo menunjukkan bahwa Yesus ingin membawa dunia ke dalam pelukan Bapa dan meruntuhkan setiap penghalang yang memisahkan kita dari Allah dan sesama.
Dengan mengulang sebutan 'Raja Damai' beberapa kali, Paus menyoroti tindakan Yesus dalam sengsara-Nya yang menjadi kesaksian atas keinginan-Nya untuk membawa damai.
Paus Leo XIV kemudian mengingatkan kembali perkataan Nabi Yesaya yang mengatakan bahwa doa seseorang tidak didengarkan jika 'tangan penuh darah'.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!