Meski demikian, ada satu hal yang menurutnya kurang ideal, yaitu adanya lintasan lari yang mengelilingi lapangan. Hal ini, menurut Kluivert, membuat para pendukung
Timnas Indonesia berada pada jarak yang cukup jauh dari lapangan. Ia merasa bahwa jarak ini mengurangi intensitas
dukungan langsung kepada
pemain di lapangan.
"Sangat disayangkan ada trek lari di sekeliling lapangan. Dengan semangat fans,
negara-negara yang datang ke sini untuk bermain melawan tim, mereka harus lebih merasakan semangatnya," lanjutnya.
Kluivert membayangkan bagaimana suasana jika Stadion Utama Gelora Bung Karno tidak memiliki lintasan atletik. Hal ini akan membuat atmosfer pertandingan Timnas Indonesia terasa lebih nyata dan intens. Suasana yang lebih dekat antara penonton dan lapangan akan menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi semua yang terlibat dalam pertandingan tersebut.
Selain itu, tim lawan Timnas Indonesia yang datang ke SUGBK akan merasakan
tekanan psikologis yang lebih besar. Kondisi ini tentu akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Pasukan Garuda saat berlaga di kandang. Keberadaan
suporter yang dekat dengan lapangan akan memberikan dukungan yang lebih nyata dan menambah semangat para pemain.
"Anda
tahu, jika Anda lebih dekat di lapangan, suara bising dari suporter, Anda mendengarnya dengan sangat keras. Sekarang jaraknya agak jauh, Jadi, suara bising dari suporter, ketika jaraknya lebih dekat, akan lebih memberikan tekanan kepada lawan," jelas Kluivert.
Dengan demikian, jarak yang lebih dekat antara penonton dan pemain bisa menjadi faktor yang sangat menentukan dalam sebuah pertandingan.
Sebagai infirmasi, Tim
nasional Indonesia dijadwalkan bertanding lagi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada tanggal (25/3/2025) mendatang. Mereka akan menghadapi tim nasional Bahrain dalam pertandingan lanjutan Grup C babak ketiga
Kualifikasi Piala Dunia 2026.
@desi