Parkir Liar dan Kota Wisata yang Kehilangan Wajah
Kota Batu memberi contoh lain. Skala kecil justru membuat pengelolaan lebih disiplin. Parkir terintegrasi dengan destinasi, pembayaran mulai diarahkan non-tunai, dan pengelola bertanggung jawab penuh. Seorang wisatawan keluarga dari Solo menyebut, “Kami tahu parkirnya mahal atau tidak, tapi setidaknya jelas.”
Kembali ke Bandung, keluhan wisatawan nyaris seragam: tarif tak transparan, karcis tak ada, dan parkir di lokasi terlarang. Seorang wisatawan asal Jakarta mengaku membayar parkir motor Rp10.000 tanpa karcis di kawasan heritage. “Bukan soal uangnya, tapi rasanya seperti dibohongi,” katanya. Keluhan semacam ini mungkin terdengar sepele, tetapi akumulasinya berbahaya bagi reputasi kota.
Efek jera menjadi kata kunci yang selama ini kurang diterjemahkan ke tindakan. Derek kendaraan yang parkir di trotoar harus menjadi rutinitas, bukan tontonan sesekali. Juru parkir liar perlu diproses tindak pidana ringan dengan denda maksimal, bukan sekadar ditegur. Seluruh hasil pungli wajib disita karena itu bukan pendapatan sah, melainkan kejahatan kecil yang dibiarkan tumbuh.
Namun penindakan saja tak cukup. Pemerintah daerah perlu menyediakan alternatif nyata: kantong parkir resmi yang memadai, terpusat, dan mudah diakses. Tanpa itu, parkir liar akan selalu menemukan alasan untuk hidup. Kerja sama dengan swasta, BUMD, dan pemilik lahan kosong menjadi keniscayaan, bukan pilihan.
Digitalisasi juga tak bisa ditunda. Karcis elektronik, pembayaran non-tunai, dan sistem parkir terintegrasi akan menutup celah manipulasi. Kota wisata tertib di dunia menunjukkan satu pola: semakin sederhana dan transparan sistemnya, semakin kecil peluang kebocoran.
Pada akhirnya, parkir adalah cermin tata kelola kota. Ia menunjukkan seberapa serius pemerintah melindungi ruang publik dan menghargai wisatawan. Bandung dan daerah sekitarnya punya semua modal untuk berbenah. Yang dibutuhkan kini bukan slogan, melainkan ketegasan yang konsisten. Sebab kota wisata yang besar bukan diukur dari ramainya pengunjung, melainkan dari keberanian menertibkan hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!