Pameran Tunggal William Robert, Jendela Seribu Pintu di Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung
Salah satu yang dicatat oleh Aa Nurjaman, kurator pameran dalam tulisannya menegaskan bahwa karya-karya William Robert lukisan abstrak William Robert merupakan ungkapan pengalaman bathinnya ketika hampir tiap hari menatap keluar dari balik jendela studionya, terutama ketika tak bisa bersosisalisasi dengan masyarakat sekitarnya karena wabah Covid 19 sedang merajalela. Maka analisis yang paling tepat menurut pendapat Aa Nurjaman adalah anlisis pengalaman yang oleh Edmund Husserl disebut fenomologi, karena yang jadi fokus dari karya-karya William Robert adalah pengalamannya itu. Dalam fenomologi Husserlian disebutkan bahwa pengalaman adalah kenyataan pertama yang paling mendasar, yang kemudian dirasakan dan diimajinasikan pada tingkat pra-reflektif dan pra-teoretis. Pengalaman William Robert termasuk pengalaman lebenswelt, sebagai pengalaman disampaikan kepada kita melalui warna.
Pameran ini akan dibuka oleh Windi Salomo, yang merupakan seorang art director, galleriest, owner SAL Project, pada Rabu 12 Oktober 2022. Pada pameran tunggal William Robert yang akan berlansung selama 10 hari ini, Aidil Usman selaku Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta yang juga jadi penulis dalam pameran ini membuat beberapa catatan yang bisa kita cermati atau telaah lebih lanjut. Dalam salah satu penggalan tulisannya Aidil Usman menulis, “William Robert seperti layaknya penyair dengan cara memvisualkan warna sebagai puisi dengan kekuatan metafor yang terpilih. Puisi yang mendentum dalam kekuatan bathin, tidak perlu menggunakan pengeras suara untuk berteriak lantang untuk didengar, cukup dirasakan. Dengan itu karyanya akan mengajak kita mengalami kondisi yang katarsis untuk tidak harus dituntut untuk paham dan mengerti, akan tetapi cukup dirasakan dan dinikmati.”
Sementara Herry Dim, seorang budayawan, penulis/kritikus seni rupa kawakan dalam ulasannya yang diberi judul “Membaca Spiritualitas William Robert“ menulis, “Cukup gambling, bahwa perjalanan William Robert itu meniti ruang spiritual. Ia tak menggambarkan sosok-sosok atau benda-benda atas suatu kejadian Pandemi Covid 19, melainkan menyemburatkan tahap-tahap perjalanan spiritualnya. Memang , bahkan seperti pada judul pamerannya, ia menyebut benda yang kita kenali wujudnya ; pintu dan jendela. Kemudian pada karya lain ada terali dan tangga. Tapi ia tak mengedepankan sebagai representasi dari benda-benda tersebut. Tak lain merupakan metafora, majas atau kiasan. Maka yang yang tersisa dari pintu, jendela, terali atau tangga itu adalah nirmana pola garis atau bidang. Kelincahan dan kepiawaiannya mengolah ‘inti’ dari wujud itulah yang sungguh sangat menarik.“
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!