Paguron Pusaka Kencana Gelar Open-II 2026, Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya Pencak Silat
Editor
Desi Rossilawati
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:30 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Paguron Pusaka Kencana resmi menggelar Pasanggiri Pencak Silat Pusaka Kujang Kencana (Paguron Pusaka Kencana Open-II 2026) sebagai bentuk nyata komitmen dalam melestarikan budaya pencak silat sebagai warisan budaya bangsa. Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan, pelestarian, serta regenerasi pesilat lintas usia dan kategori pada Sabtu (24/01/2026) di Dome Balerame Soreang.
Bendahara Paguron Pusaka Kencana, Adhi Fadli Muhamad Nurdin, menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada nilai budaya yang terkandung di dalam pencak silat.
“Kegiatan Paguron Pusaka Kencana Open-II ini kami selenggarakan sebagai bagian dari upaya nyata dalam melestarikan budaya pencak silat sebagai warisan budaya bangsa,” ujar Adhi Fadli kepada VISI.NEWS.
Ia menambahkan bahwa pencak silat memiliki posisi penting dalam identitas budaya masyarakat.
“Pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dijaga, diwariskan, dan diperkenalkan kepada generasi muda melalui kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan karakter generasi muda melalui nilai-nilai luhur pencak silat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang pembinaan, pelestarian, dan penguatan nilai-nilai budaya lokal yang hidup dalam tradisi pencak silat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Adhi Fadli menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Paguron Pusaka Kencana.
“Paguron Pusaka Kencana Open-II diselenggarakan sebagai bentuk komitmen kami dalam menjaga kesinambungan budaya dan membangun regenerasi pesilat yang berkarakter,” katanya.
Pasanggiri Pencak Silat Pusaka Kujang Kencana 2026 mempertandingkan berbagai kategori, mulai dari tunggal, ganda, hingga rampak untuk kelompok anak, remaja, dan dewasa. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai unsur paguron, komunitas silat, serta generasi muda sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Paguron Pusaka Kencana berharap pencak silat tidak hanya terus hidup sebagai tradisi, tetapi juga berkembang sebagai identitas budaya yang kuat, relevan, dan diwariskan lintas generasi.
Bendahara Paguron Pusaka Kencana, Adhi Fadli Muhamad Nurdin, menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada nilai budaya yang terkandung di dalam pencak silat.
“Kegiatan Paguron Pusaka Kencana Open-II ini kami selenggarakan sebagai bagian dari upaya nyata dalam melestarikan budaya pencak silat sebagai warisan budaya bangsa,” ujar Adhi Fadli kepada VISI.NEWS.
Ia menambahkan bahwa pencak silat memiliki posisi penting dalam identitas budaya masyarakat.
“Pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dijaga, diwariskan, dan diperkenalkan kepada generasi muda melalui kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan karakter generasi muda melalui nilai-nilai luhur pencak silat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang pembinaan, pelestarian, dan penguatan nilai-nilai budaya lokal yang hidup dalam tradisi pencak silat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Adhi Fadli menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Paguron Pusaka Kencana.
“Paguron Pusaka Kencana Open-II diselenggarakan sebagai bentuk komitmen kami dalam menjaga kesinambungan budaya dan membangun regenerasi pesilat yang berkarakter,” katanya.
Pasanggiri Pencak Silat Pusaka Kujang Kencana 2026 mempertandingkan berbagai kategori, mulai dari tunggal, ganda, hingga rampak untuk kelompok anak, remaja, dan dewasa. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai unsur paguron, komunitas silat, serta generasi muda sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Paguron Pusaka Kencana berharap pencak silat tidak hanya terus hidup sebagai tradisi, tetapi juga berkembang sebagai identitas budaya yang kuat, relevan, dan diwariskan lintas generasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!