Mojtaba Khamenei Kirim Sinyal Damai, Tapi Siap Hadapi Perang Besar
ED
Editor
M Purnama Alam
Jumat, 10 April 2026 | 09:17 WIB
Seorang wanita memegang potret pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, saat mengikuti aksi unjuk rasa untuk memperingati wafatnya ayahnya—Ali Khamenei—di Teheran. /AFP
VISI.NEWS | TEHERAN — Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengirim pesan tegas namun penuh nuansa kepada dunia internasional. Dalam pernyataan tertulis yang disiarkan televisi pemerintah, ia menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat maupun Israel, namun tetap akan mempertahankan hak-haknya sebagai sebuah negara berdaulat.
Pesan tersebut, dikutip dari ArabNews, Jumat (10/4/2026), disampaikan bertepatan dengan 40 hari wafatnya ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari lalu—hari pertama pecahnya konflik besar di kawasan. Momen ini sekaligus menjadi simbol transisi kekuasaan yang penuh tekanan geopolitik.
“Kami tidak mencari perang dan tidak menginginkannya,†tulis Mojtaba dalam pesannya. Namun ia langsung menegaskan garis keras: Iran tidak akan pernah melepaskan hak sahnya dalam kondisi apa pun. Pernyataan ini dipandang sebagai upaya menyeimbangkan retorika damai dengan sikap tegas terhadap tekanan internasional.
Dalam pernyataan yang sama, Mojtaba juga menyinggung “front perlawanan†yang dianggap sebagai satu kesatuan. Ini merujuk pada jaringan sekutu Iran di kawasan, termasuk kelompok Hezbollah di Lebanon, yang saat ini masih terlibat konflik dengan Israel.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa Iran akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru. Langkah ini berpotensi meningkatkan ketegangan global, mengingat selat tersebut merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia.
Di tengah situasi panas, secercah harapan muncul setelah Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan rapuh ini membuka peluang menuju negosiasi damai, meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Teheran.
Namun Mojtaba mengingatkan rakyat Iran agar tidak lengah. Ia menegaskan bahwa mobilisasi publik tetap penting, bahkan di tengah gencatan senjata. “Jangan berpikir kehadiran di jalanan tidak lagi diperlukan,†pesannya.
Menurutnya, suara rakyat di ruang publik akan sangat menentukan arah dan hasil negosiasi ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan baru Iran tidak hanya mengandalkan diplomasi elit, tetapi juga tekanan massa sebagai alat politik.
Pernyataan ini menandai fase baru dalam dinamika konflik Timur Tengah—di mana Iran mencoba memainkan dua peran sekaligus: meredam perang terbuka, sambil tetap menjaga pengaruh dan kekuatan regionalnya. Dunia kini menanti, apakah sinyal damai ini akan berujung pada stabilitas, atau justru menjadi jeda sebelum eskalasi yang lebih besar.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!