Minggu Kedua Perang Iran-Israel Dimulai dengan Serangan Baru ke Fasilitas Nuklir
VISI.NEWS | JERUSALEM - Minggu kedua perang antara Israel dan Iran dimulai pada Sabtu (21/6/2025) dengan serangan udara terbaru yang menargetkan fasilitas penelitian nuklir Iran di dekat kota Isfahan. Serangan ini menambah daftar panjang infrastruktur strategis yang dihantam Israel sejak pecahnya konflik sembilan hari lalu.
Dilansir dari Arab News, Minggu (22/6/2025), menyebutkan upaya diplomatik yang dilakukan di Jenewa pada Jumat gagal membuahkan hasil. Pertemuan antara menteri luar negeri negara-negara Eropa dengan diplomat utama Iran berakhir tanpa terobosan, sementara ketegangan di lapangan terus meningkat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ia masih mempertimbangkan keterlibatan militer negaranya dalam konflik tersebut. Kekhawatiran dunia meningkat terkait potensi serangan terhadap reaktor nuklir Iran, yang dapat memicu bencana radiasi regional.
Meskipun belum ada kemajuan berarti dalam pembicaraan, sejumlah pejabat Eropa masih menyatakan harapan akan kelanjutan negosiasi. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak bersedia duduk di meja perundingan selama Israel terus melakukan agresi militer.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan sikap negaranya. Dalam pembicaraan via telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak akan menghentikan aktivitas nuklir “dalam kondisi apa pun”, meski bersedia bekerja sama untuk membangun kepercayaan dalam program nuklir damai.
Di tengah konflik, polisi Siprus menangkap seorang pria atas tuduhan spionase dan terorisme, yang diduga terkait dengan Iran. Media setempat melaporkan bahwa tersangka terlihat mencurigakan di dekat pangkalan udara Inggris di Akrotiri dan masuk ke negara itu dengan menyamar sebagai turis Inggris.
Situasi di wilayah konflik juga semakin genting. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri AS telah memulai evakuasi warga negaranya dari Israel melalui penerbangan bantuan. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menyerang kapal AS di Laut Merah jika Washington terlibat dalam serangan ke Iran.
Israel mengklaim telah membunuh dua komandan senior Pasukan Quds dalam serangan udara terpisah di Qom dan Teheran. Salah satu dari mereka, Saeed Izadi, adalah pemimpin Korps Palestina dalam sayap luar negeri Garda Revolusi. Komandan lainnya, Benham Shariyari, disebut bertanggung jawab atas distribusi senjata ke Hamas, Hizbullah, dan Houthi.
Sebaliknya, Iran menyebut telah menangkap 22 orang di Provinsi Qom yang diduga memiliki hubungan dengan dinas mata-mata Israel. Mereka dituduh menyebarkan propaganda dan mengganggu ketertiban umum.
Serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir di Isfahan pada Sabtu juga dilaporkan tidak menyebabkan kebocoran zat radioaktif. Namun, dampak psikologisnya besar karena fasilitas ini sebelumnya menjadi simbol kemajuan program nuklir Iran.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa konflik ini bisa memicu krisis pengungsi baru di Timur Tengah. Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, menyerukan deeskalasi segera untuk mencegah penderitaan manusia berkepanjangan.
Meskipun banyak tekanan dari komunitas internasional, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak menghentikan operasi militer, sementara Trump menyatakan skeptis bahwa perundingan akan membuahkan hasil dalam waktu dekat. Rusia dan China menyerukan penghentian segera kekerasan, sementara Teheran dan Tel Aviv terus saling menyerang baik secara militer maupun diplomatik.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!