Milyaran Data Aplikasi Pedulilindungi Bocor dan Dijual
VISI.NEWS | JAKARTA - Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Nusa Dua, Bali, yang dimulai hari ini menjadi catatan buruk bagi citra Indonesia di mata dunia. Pasalnya ada lebih dari 3,2 Milyar data PeduliLindungi yang bocor dan dijual oleh Bjorka yang juga beberapa hari yang lalu membocorkan salah satu aplikasi milik plat merah yaitu MyPertamina
Dalam keterangannya pada Selasa (15/11/2022), pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa kebocoran tersebut diunggah pada pagi ini oleh anggota forum situs breached.to dengan nama identitas 'Bjorka' yang memang sudah berjanji sebelumnya untuk membocorkannya aplikasi PeduliLindungi ke publik setelah aplikasi MyPertamina. Bjorka membocorkan 3,2 Milyar yang terbagi kedalam data pengguna, data vaksinasi, riwayat pelacakan, serta riwayat check-in pengguna aplikasi dengan memberikan sampel data.
"Data yang diunggah yaitu Nama, Email, NIK (Nomor KTP), Nomor Telepon, Tanggal Lahir, Identitas Perangkat, Status COVID-19, Riwayat Checkin, Riwayat Pelacakan Kontak, Vaksinasi dan masih banyak data lainnya. Data yang berjumlah 3,2 Milyar ini dijual dengan harga US$ 100.000 atau sekitar 1,5 Milyar rupiah menggunakan menggunakan mata uang Bitcoin," terang chairman lembaga riset siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center)
Pratama mengemukakan, data yang diklaim oleh Bjorka berjumlah 3,250,144,777 data dengan total ukuran mencapai 157 GB bila dalam keadaan tidak dikompres. Data sampelnya dibagi menjadi 5 file yaitu Data Pengguna sebanyak 94 Juta, Akun yang sudah disortir sebanyak 94 Juta, Data Vaksinasi 209 Juta, Data Riwayat Check-In 1,3 Milyar, dan Riwayat Pelacakan Kontak sebanyak 1,5 Milyar. Saat dicek apakah data ini valid menggunakan aplikasi pengecek nomor KTP, maka data ini benar valid terdata di data kependudukan. Dan jika diperiksa lebih lanjut pada sample datanya, ada banyak kordinat lokasi yang bertepatan dengan fitur Check-in PeduliLindungi di tempat - tempat publik.
"Sampai saat ini sumber datanya masih belum jelas, Namun soal asli atau tidaknya data ini hanya instansi yang terlibat dalam pembuatan aplikasi pedulilindungi yaitu Kominfo, Kementrian BUMN, Kemenkes dan Telkom. Dan juga sangat disayangkan data yang sangat sensitif ini tidak maksimal pengamanannya, misalnya dengan melakukan enkripsi datanya. Jalan terbaik harus dilakukan audit dan investigasi digital forensic untuk memastikan kebocoran data ini dari mana”, jelas pria asal Cepu, Jawa Tengah ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!