Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Menghindari Mental Penimbun: Panduan Ikut Tren "No Buy Challenge 2025" untuk Tahun yang Lebih Sederhana

Desi Rossilawati
Kamis, 2 Januari 2025 | 00:45 WIB
Bagikan
Menghindari Mental Penimbun: Panduan Ikut Tren "No Buy Challenge 2025" untuk Tahun yang Lebih Sederhana
VISI.NEWS | BANDUNG - Tren “No Buy Challenge” kembali mencuri perhatian di media sosial menjelang pergantian tahun, dengan tujuan utama untuk mengurangi konsumsi berlebihan. Tren ini mengajak masyarakat untuk menahan diri dari membeli barang-barang non-esensial sepanjang tahun 2025, sebagai langkah untuk mengatasi perilaku konsumtif yang merugikan. Kebiasaan konsumsi berlebihan sering kali dikaitkan dengan adanya mental penimbun, sebuah pola pikir yang menyerupai gangguan penimbunan (hoarding disorder). Mental ini mengarah pada kecenderungan untuk mengumpulkan barang tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak. Menurut Cynthia Suci Lestari, Founder Komunitas Gaya Hidup Minimalis Lyfe with Less, meskipun gangguan penimbunan harus didiagnosis oleh seorang profesional, ada beberapa gejala yang bisa dikenali untuk menghindari perilaku ini. Berikut adalah lima karakteristik yang sering terlihat pada orang dengan mental penimbun:
  1. Cepat Bosan dengan Barang yang Dimiliki Orang dengan mental penimbun cenderung merasa tidak puas dengan barang yang sudah mereka miliki, meski barang tersebut masih dalam kondisi baik. Rasa bosan ini membuat mereka terus mencari barang baru, meskipun sebenarnya barang tersebut tidak diperlukan.
  2. Tempat Tinggal Berantakan Karena kebiasaan menumpuk barang, ruangan tempat tinggal mereka sering kali terlihat berantakan. Berbeda dengan kebanyakan orang yang merasa terganggu dengan kondisi ini, mereka merasa nyaman dengan lingkungan yang penuh barang.
  3. Sulit Melepaskan Barang Walaupun sadar bahwa barang yang dimiliki tidak terpakai atau terawat, pengidap mental penimbun sulit untuk melepaskan barang-barang tersebut. Mereka merasa enggan membuangnya karena alasan seperti "sayang" atau "masih bagus".
  4. Boros dalam Belanja Salah satu tanda paling jelas dari mental penimbun adalah kebiasaan boros saat berbelanja. Mereka cenderung membeli barang hanya untuk memenuhi keinginan sesaat, tanpa memperhatikan kebutuhan yang sebenarnya.
  5. Kesulitan Menentukan Pilihan Orang dengan mental penimbun sering kali merasa kesulitan saat harus memilih barang yang benar-benar dibutuhkan. Mereka lebih cenderung membeli barang yang sedang tren meskipun tidak esensial dan akhirnya memiliki barang yang tidak terpakai.
Tren “No Buy Challenge 2025” bertujuan untuk mengurangi dampak dari kebiasaan konsumtif ini, mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja dan hanya membeli barang yang benar-benar diperlukan. Ini juga menjadi langkah awal untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental dengan hidup lebih sederhana. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.